Objek Linguistik : BAHASA

OBJEK LINGUISTIK: BAHASA

Setiap kegiatan yang bersifat ilmiah tentu mempunyai objek. Begitu juga

dengan linguistik, yang mengambil bahasa sebagai objeknya.

3.1

PENGERTIAN BAHASA

Kata “bahasa” dalam bahasa Indonesia memiliki lebih dari satu makna atau

pengertian, sehingga seringkali membingungkan. Untuk lebih jelasnya, perhatikan

pemakaian kata bahasa dalam kalimat-kalimat berikut.

1. Dika belajar bahasa Inggris, Nita belajar bahasa Jepang.

2. Manusia mempunyai bahasa, sedangkan binatang tidak.

3. hati-hati bergaul dengan anak yang tidak tahu bahasa.

4. Dalam kasus ini ternyata lurah dan camat tidak mempunyai bahasa yang sama.

5. Katakanlah dengan bahasa bunga!

6. Pertikaian itu tidak bisa diselesaikan dengan bahasa militer.

7. Kalau dia memberi kuliah bahasanya penuh dengan kata daripada dan akhiran

ken.

8. Kabarnya, Nabi Sulaiman mengerti bahasa semut.

Kata bahasa pada kalimat (1) jelas menunjuk pada bahasa tertentu, yaitu

merupakan sebuah langue, (2) menunjuk bahasa pada umumnya, jadi suatu langange, (3)

berarti sopan santun, (4) bahasa berarti kebijakan bertindak, (5) bahasa berarti maksud-

maksud dengan bunga sebagai lambang, (6) kata bahasa berarti dengan cara, (7) kata

bahasa berarti ujarannya, yang sama dengan parole menurut de Saussure, (8) kata bahasa

berarti hipotesis.

3.2

HAKIKAT BAHASA

Ciri dan sifat bahasa yang hakiki dari bahasa yaitu (1) bahasa adalah sebuah

sistem, (2) bahasa itu berwujud lambang, (3) bahasa itu berupa bunyi, (4) bahasa itu

brsifat arbitrer, (5) bahasa itu bermakna, (6) bahasa itu bersifat konvensional, (7) bahasa

itu bersifat unik, (8) bahasa itu bersifat universal, (9) bahasa itu bersifat produktif, (10)

bahasa itu bervariasi, (11) bahasa itu bersifat dinamis, (12) bahasa itu berfungsi sebagai

alat interaksi sosial, dan (13) bahasa itu merupakan identitas penuturnya.

3.2.1

Bahasa sebagai Sistem

Sistem berarti cara atau aturan. Sebagai sebuah sitsem, bahasa sekaligus

bersifat sistematis artinya, bahasa itu tersusun menurut suatu pola, tidak tersusun secara

acak, secara sembarangan, sedangkan sistemis artinya, bahasa itu bukan merupakan

sistemtunggal, tetapi terdiri juga sebagai sb-sistem, atau sistem bawahan.

Kajian linguistik dibagi ke dalam beberapa tataran, yaitu tataran fonologi,

morfologi, sintaksis, sematik, dan leksikon.


Page 2

3.2.2

Bahasa sebagai Lambang

Kata lambang sering dipadankan dengan kata simbol dan pengertian yang

sama. Lambang dengan pelbagai seluk beluknya dikaji orang dalam kegiatan ilmiah

dalam bidang kajian yang disebut ilmu semiotika atau semiologi, yaitu ilmu yang

mempelajari tanda-tanda yang ada dalam kehidupan manusia, termasuk bahasa.

Lambang bersifat arbitrer, yaitu tidak adanya hubungan langsung yang

bersifat wjib antara lambang dengan yang dilambangkannya. Dalam kepustakaan, ada

yang menyatakan bahasa adalah sistem tanda.

Sinyal atau isyarat adalah tanda yang disengaja yang dibuat oleh pemberi

sinyal agar si penerima sinyal melakukan sesuatu.

Gerak isyarat atau gesture adalah tanda yang dilakukan dengan

gerakananggota badan, dan tidak bersifat imperatif seperti pada sinyal.

Gejala atau symptom adalah suatu tanda yang tidak disengaja, yang dihasilkan

tanpa maksud tetapi alamiah untuk menunjukkan atau mengungkapkan bahwa sesuatu

akan terjadi.

Ikon adalah tanda yang paling mudah dipahami karena kemiripannya dengan

sesuatu yang diwakili.

Indeks adalah tanda yang menunjukkan adanya sesuatu yang lain, seperti asap

yang menunjukkan adanya api.

Ciri kode sebagai tanda adalah adanya sistem, baik yang berupa simbol,

sinyal, amupun gerak isyarat yang dapat mewakili pikiran perasaan, ide, benda, dan

tindakan yang disepakati untuk maksud tertentu.

3.2.3

Bahasa adalah Bunyi

Bahasa adalah sistem lambang bunyi. Menurut Kridalaksana bunyi adalah

kesan pada pusat saraf sebagai akibat dari getaran gendang telinga yang bereaksi karena

perubahan-perubahan dalam tekanan udara. Lambang bahasa adalah bunyi-bunyi yang

dihasilkan oleh alat ucap manusia. Jadi, bunyi yang bukan dihasilkan oleh alat ucap

manusia tidak termasuk bunyi biasa. Bunyi bahasa atau bunyi ujaran adalah satuan bunyi

yang dihasilkan oleh alat ucap manusia yang didalam fonetik diamati sebagai “fon” dan

di dalam fonemik sebagai “fonem”.

Dalam linguistik yang disebut bahasa, yang pimer, adalah yang diucapkan,

yang dilisankan, yang keluar dari alat ucap manusia. Sedangkan bahasa tulisan hanyalah

bersifat sekunder.

3.2.4

Bahasa itu Bermakna

Sebagai lambang tentu ada yang dilambangkan dan yang dilambangkan

adalah suatu pengertian, suatu konsep, suatu ide, atau suatu pikiran yang ingin

disampaikan dalam wujud bunyi itu. Oleh karena lambang-lambang mengacu pada suatu

konsep, ide,a atau pikiran, maka dapat dikatakan bahwa bahasa mempunyai makna.

Makna yangh berkenaan dengan morfem dan kata disebut makna leksikal

yang berkenaan dengan frase, klausa, dan kalimat disebut makna gramatikal, yamg

berkenaan dengan wacana disebut makna pragmatik, atau makna konteks.


Page 3

3.2.5

Bahasa itu Arbitrer

Kata arbitrer bisa diartikan sewenang-wenang, berubah-ubah, tidak tetap,

mana suka. Arbitrer adalah tidak adanya hubungan wajib anatara lambang bahasa dengan

konsep atau pengertian yang dimaksud oleh lambang tersebut.

Signifiant adalah lambang bunyi itu, sedangkan signifie adalah konsep yang

dikandung oleh signifiant. Dalam peristilahan bahasa Indonesia dewasa ini ada digunakan

istilah penanda untuk lambang bunyi dan signifiant itu dan istilah penanda untuk konsep

yang dikandungnya, atau diwakili oleh penanda tersebut. Hubungan anatara signifiant

atau penanda dengan signifie atau petanda itulah yang disebut arbitrer, sewenang-

wenang, atau tidak ada hubungan wajib di antara keduanya.

3.2.6

Bahasa itu Konvensional

Penggunaan lambang tersebut untuk suatu konsep tertentu bersifat

konvensional. Artinya, semua anggota masyarakat bahasa itu mematuhi konvensi bahwa

lambang tertentu digunakan untuk mewakili kosep yang diwakilinya. Kekonvensionalan

bahasa terletak pada kepatuhan para penutur bahasa untuk menggunakan lambang itu

sesuai dengan konsep yang dilambangkannya.

Sebuah istilah yang dibuat tentu dimaksudkan untuk melambangkan suatu

konsep, bisa digunakan atau tidak digunakan dalam pertuturan tergantung dari keperluan

penggunaannya, bukan dari kepatuhan atau tidak terhadap konvensinya.

3.2.7

Bahasa itu Produktif

Unsur-unsur bahasa itu terbatas, tetapi dengan unsur-unsur yang jumlahnya

terbatas itu dapat dibuat satuan-satuan bahasa yang jumlahnya tidak terbatas, meski

secara relatif, sesuai dengan sistem yang berlaku dalam bahasa itu.

Keproduktifan bahasa ada batasnay. Ada dua macam keterbatasan, yaitu

keterbatasan pada tingkat parole dan keterbatasan pada tingkat langue. Keterbatasan pada

tingkat parole adalah pada ketidaklaziman bentuk-bentuk yang dihasilkan. Pada tingkat

langue keproduktifan itu dibatasi karena kaidah atau sistem yang berlaku.

3.2.8

Bahasa itu Unik

Unik artinya mempunyai ciri khas yang spesifik yang tidak dimiliki oleh yang

lain. Salah satu keunikan bahasa Indonesia adalah bahwa tekanan kata tidak bersifat

morfemis, melainkan sintaksis. Maksudnya, kalau pada kata tertentu di dalam kalimat

kita berikan tekanan, maka makna kata itu tetap. Yang berubah adalah makna

keseluruhan kalimat.

Kalu keunikkan terjadi pada sekelompok bahasa yang berada dalam satu

rumpun atau satu kelompok bahasa, lebih baik jangan disebut keunikan, melainkan ciri

dari rumpun atau golongan bahasa itu.

3.2.9

Bahasa itu Universal

Bahasa itu juga bersifat universal, artinya, ada ciri-ciri yang sama yang

dimiliki oleh setiap bahasa yang ada di dunia ini.

Karena bahasa itu berupa ujaran, maka ciri universal dari bahasa yang paling

umum adalah bahwa bahasa itu mempunyai bunyi bahasa yang terdiri dari vokal dan


Page 4

konsonan. Tetapi banyaknya vokal dan konsonan yang dimiliki oleh setiap bahasa

bukanlah persoalan keuniversalan.

3.2.10 Bahasa itu Dinamis

Bahasa adalah satu-satunya milik manusia yang tidak pernah lepas dari segala

kegiatan dan gerak manusia sepanjang keberadaan manusia itu, sebagai makhluk yang

berbudaya dan bermasyarakat.

Perubahan yang paling jelas, dan paling banyak terjadi adalah pada bidang

leksikon dan semantik. Hal ini mudah dipahami, karena kata sebagai satuan bahasa

terkecil, adalah sarana atau wadah untuk menampung suatu konsep yang ada dalam

masyarakat bahasa.

Perubahan dalam bahasa juga dapat terjadi dengan adanya kemunduran

sejalan dengan perubahan yang dialami masyarakat bahasa yang bersangkutan. Berbagai

alasan sosial dan politis menyebabkan banyak orang meninggalkan bahasanya.

3.2.11 Bahasa itu Bervariasi

Yang termasuk dalam satu masyarakat bahasa adalah mereka yang merasa

menggunakan bahasa yang sama. Anggota masyarakat suatu bahasa biasanya terdiri dari

berbagai oatang dengan berbagai status sosial dan berbagai latar belakang budaya yang

tidak sama. Mengenai variasi bahasa ada tiga istilah yang perlu diketahui, yaitu idiolek,

dialek, dan ragam. Idiolek adalah variasi atau ragam bahasa yang bersifat perseorangan.

Dialek adalah variasi bahasa yang digunakan oleh sekelompok anggoota

masyarakat pada suatu tempat atau suatu waktu.

Ragam atau ragam bahasa adalah variasi bahasa yang digunakan dalam

situasi, keadaan, atau untuk keperluan tertentu. Untuk situasi formal digunakan ragam

bahasa yang disebut ragam baku atau ragam standar, untuk situasi yang tidak formal

digunakan ragam yang tidak baku atau ragam nonstandar.

3.2.12 Bahasa itu Manusiawi

Sebetulnya yang membuat alat komunikasi manusia itu, yaitu bahasa,

produktif, dan dinamis, dalam arti dapat dipakai untuk menyatakan sesuatu yang baru,

berbeda dengan alat komunikasi binatang, yang hanya itu-itu saja dan statis, tidak dapat

dipakai untuk menyatakan sesuatu yang baru, bukanlah terletak pada bahasa itu dan alat

komunikasi binatang itu.

Oleh karena itu disimpulkan bahwa alat komunikasi manusia yang namanya

bahasa adalah bersifat manusiawi, dalam arti hanya milik manusia san hanya dapat

digunakan ole manusia.

3.3

BAHASA DAN FAKTOR LUAR BAHASA

Objek kajian linguisti mikro adalah struktur intern bahasa atau sosok bahasa

itu sendiri, sedangkan kajian linguistik makro adalah bahasa dalam hubungannya dengan

faktor-faktor di luar bahasa.


Page 5

3.3.1

Masyarakat Bahasa

Kata masyarakat biasanya diartikan sebagai sekelompok orang yang merasa

sebangsa, seketurunan, sewilayah tempat tinggal, atau yang mempunyai kepentingan

sosial yang sama.

Karena titik berat pengertian masyarakat bahasa pada “merasa menggunakan

bahasa yang sama”, maka konsep masyarakat bahasa dapat menjadi luas dan dapat

menjadi sempit. Akibat lainnya adalah patokan linguistik umum mengenai bahasa

menjadi longgar.

3.3.2

Variasi dan Status Sosial Bahasa

Bahasa bervariasi karena anggota masyarakat penutur bahasa itu sangat

beragam, dan bahasa itu sendiri digunakan untuk keperluan yang beragam-ragam pula.

Dalam beberapa masyarakat tertentu ada semacam kesepakatan untuk membedakan

adanya dua macam variasi bahasa yang dibedakan berdasarkan status pemakaiannya.

Variasi T (Tinggi) digunakan dalam situasi resmi, sedangkan variasi R (rendah) dipelajari

langsung oleh masyarakat umum. Adanya pembedaan variasi T dan R disebut diglosia.

3.3.3

Penggunaan Bahasa

Hymes (1974) seorang pakar sosiolinguistik mengatakan bahwa suatu

komunikasi dengan menggunakan bahasa harus memperhatikan delapan unsur

SPEAKING, yaknu:

1. Settng and Scene

adalah unsur yang berkenaan dengan tempat dan waktu terjadinya percakapan.

2. Participants

adalah orang-orang yang terlibat dalam percakapan

3. Ends

adalah maksud dan hasil percakapan

4. Act Sequences

adalah hal yang menunjuk pada bentuk dan isi percakapan.

5. Key

adalah yang menunjuk pada cara atau semangat dalam melaksanakan percakapan.

6. Instrumaentalities

adalah yang menunjuk pada jalur percakapan, apakah secara lisan atau bukan.

7. Norms

adalah yang menunjuk pada norma perilaku peserta percakapan.

8. Genres

adalah yang menunjuk pada kategori atau ragam bahasa yang digunakan.

3.3.4

Kontak Bahasa

Dalam masyarakat yang terbuka , artinya yang para anggotanya dapat

menerima kedatangan anggiota dari masyarakat lain, baik dari satu atau lebih dari satu

masyarakat , akan terjadilah kontak bahasa.

Kefasihan seseoarng untuk menggunakan dua bahasa sangat tergantung pada

adanya kesempatan untuk menggunakan kedua bahasa itu.

Dalam masyarakat yang bilingual atau mulilangual sebagai akibat adanya

kontak bahasa adapat terjadi peristiwa interferensi, integrasi, alihkode, dan campurkode.


Page 6

Interferensi biasanya dibedakan dari integrasi. Dalam integrasi unsur-unsur

dari bahasa lain yang terbawa masuk itu, sudah dianggap, diperlakukan, dan dipakai

sebagai bagian dari bahasa yang menerimanya atau dimasukinya.

Alih kode yaitu beralihnya penggunaan suatu kode ke dalam kode yang lain.

Alih kode dibedakan dari campur kode. Alih kode terjadi karena bersebab. Dalam campur

kode ini dua kode atau lebih digunakan bersama tanpa alasan, dan biasanya terjadi dalam

situasi santai.

Kalau dibandingkan, campur kode dan interferensi memang tampak sama.

Namun, kalau diteliti ada bedanya. Dalam interferensi, pembicara melakukannya karena

tidak tahu, dan terjadi dari bahasa yang dikuasdainya. Dalam campur kode, terjadi

dengan disadari oleh pembicara. Dia memasukkan unsur bahasa lain ke dalam bahasa

yang sedang digunakannya.

3.3.5

Bahasa dan Budaya

Dalam sejarah linguistik ada suatu hipotesis yang sangat terkenal mengenai

hubungan bahasa dan kebudayaan. Hipotesis ini dikeluarkan ole Edward Sapir dan

Benjamin Lee Whorf yang menyatakan bahwa bahasa mempengaruhi kebudayaan. Atau

lebih jelasnya dapat mempengaruhi cara berpikir dan bertindak anggota masyarakat

penuturnya. Jadi, bahasa menguasai cara berpikir dan bertindak manusia.

3.4

KLASIFIKASI BAHASA

Klasifikasi dilakukan denagn melihat kesamaan ciri yang ada pada setiap

bahasa.Dalam hal ini tentunya di samping kelompok, akan ada subkelompok, atau sub-

subkelompok yang lebih kecil.

Pendekatan untuk membuat klasifikasi terdiri dari: pendekatan genetis,

tipologis, areal, dan sosiolinguistik.

3.4.1

Klasifikasi Genetis

Klasifikasi genetis, disebut juga klasifikasi geneologis, dilakukan berdasarkan

garis keturunan bahasa-bahasa itu. Artinya, suatu bahasa berasal atau diturunkan dari

bahasa yang lebih tua. Menurut teori klasifikasi genetis ini, suatu bahasa proto (bahasa

tua atau bahsa semula) akan pecah dan menurunkan dua bahasa baru atau lebih.

Klasifikasi genetis dilakukan berdasarkan kriteria bunyi dan arti, yaitu atas

kesamaan bentuk (bunyi) dan makna yang dikandungnya.

Sejauh ini klasifikasi yang telah dilakukan, dan banyak diterima orang secara umum,

adalah bahwa bahasa-bahasa yang ada di dunia terbagi dalam sebelas rumpun besar.

Klasifikasi genetis ini menunjukkan bahwa perkembangan bahasa –bahasa di

dunia ini bersifat divergensif, yakni memecah dan menyebar menjadi banyak.

3.4.2

Klasifikasi Tipologis

Klasifikasi tipologis dilakukan berdasarkan kesamaan tipe atau tipe-tipe yang

terdapat pada sejumlah bahasa.

Klasifikasi pada tataran morfologi yang telah dilakukan pada abad XIX secara

garis besar dapat dibagi tiga kelompok, yaitu:

1. Kelompok pertama

adalah yang semata-mata menggunakan bentuk bahasa sebagai dasar klasifikasi.


Page 7

2. Kelompok kedua

adalah yang menggunakan akar kata sebagai dasar klasifikasi.

3. Kelompok ketiga

adalah yang menggunakan bentuk sintaksis sebagai dasar klasifiksi.

3.4.3

Klasifikasi Areal

Klasifikasi areal dilakukan berdasarkan adanya hubungan timbal balik antara

bahasa yang satu dengan bahasa yang lain di dalam suatu areal atau wilayah, tanpa

memperhatikan apakah bahasa itu berkerabat secara genetik atau tidak.

Klasifikasi ini bersifat arbitrer karena dalam kontak sejarah bahasa-bahasa itu

memberikan pengaruh timbal-balik dalam hal-hal yertentu yang terbatas.

3.4.4

Klasifikasi Sosiolinguistik

Klasifikasi sosiolinguistik dilakukan berdasarkan hubungan antara bahasa

dengan faktor-faktor yang berlaku dalam masyarakat, tepatnya berdasarkan status, fungsi,

penilaian yang diberikan masyarakat terhadap bahasa itu.

Historisitas berkenaan dengan sejarah perkembangan bahasa atau pemakaian

bahasa itu.

Kriteria standardisasi berkenaan dengan statusnya sebagai bahasa baku, atau

tidak baku, atau statusnya dalam pemakaian formal atau tidak formal.

Vitalitas berkenaan dengan apakah bahasa itu mempunyai penutur yang

menggunakannya dalam kegiatan sehari-hari secara aktif, atau tidak. Sedangkan

homogenesitas berkenaan dengan apakah leksikon dan tata bahasa itu diturunkan.

Dengan menggunakan keempat ciri di atas, hasil klasifikasi bisa menjadi

nekshaustik sebab semua bahasa yang ada di dunia dapat dimasukkan ke dalam

kelompok-kelompok tertentu.

3.5

BAHASA TULIS DAN SISTEM AKSARA

Meskipun dikatakan bahasa lisan adalah primer dan bahasa tulis sekunder,

tetapi peranan atau fungsi bahasa tulis di dalam kehidupan modern sangat besar sekali.

Bahasa tulis pun sebenarnya merupakan “rekaman” bahasa lisan, sebagai usaha manusia

untuk “menyimpan” bahasanya atau untuk bisa disampaikan kepada orang lain yang

berada dalam ruang dan waktu yang berbeda. Namun, ternyata rekaman bahasa tulis

sangat tidak sempurna.

Mengenai asal mula tulisan, hingga saat ini belum dapat dipastikan kapan

manusia mulai menggunakan tulisan. Para ahli dewasa ini memperkirakan tulisan itu

berawal dan tumbuh dari gambar-gambar yang terdapat di gua-gua di Altamira di

Spanyol utara, dan di beberapa tempat lain.

Jauh sebelum tulisan Romawi atau Latin tiba di Indonesia, berbagai bahasa di

Indonesia telah mengenal aksara, seperti yang dikenal dalam bahasa Jawa, Sunda, bahasa

Bugis, bahasa Makasar, bahasa Lampung, bahasa Batak, dan bahasa Sasak. Aksara-

aksara tersebut diturunkan dari aksara Pallawa.

Datangnya agama Islam di Indoni\esia menyebabkan tersebarnya pula aksara

Arab. Aksara Arab ini dengan berbagai modifikasi digunakan dalam bahasa Melayu,

Jawa, dan beberapa bahasa daerah lain.


Page 8

Dalam pembicaraan mengenai bahasa tulis dan tulisan kita menemukan istilah

istilah:

• Huruf adalah isilah umum untuk graf dan grafem.

• Abjad atau alfabet adalah urutan huruf-huruf dalam suatu sistem aksara.

• Aksara adalah keseluruhan sistem tulisan.

• Graf adalah satuan terkecil dalam aksara yang belum ditentukan statusnya.

• Grafem adalah satuan terkecil dalam aksara yang menggambarkan fonem, sukukata atau morfem, tergantung dari sistem akasara yang bersangkutan.

• Kaligrafi dapat diartikan sebagai seni menulis indah.

• Grafiti adalah corat-coret di dinding, tembok, pagar, dan sebagainya dengan

huruf-huruf dan kata-kata tertentu.

Hubungan antara fonem (yaitu satuan bunyi terkecil yang dapat membedakan

makna dalam suatu bahasa) dengan huruf atau grafem (yaitu satuan unsur terkecil dalam

aksara) ternyata juga bermacam-macam.

Ada pendapat umum yang mengatakan bahwa ejaan yang ideal adalah ejaan

yang melambangkan tiap fonem hanya dengan satu huruf atau sebaliknya setiap huruf

hanya dipakai untuk melambangkan satu fonem

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Posted on November 4, 2011, in MATERI KULIAH. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: