Galuh Cendera Kirana (1)

UNDUNG-UNDUNGNYA sutra kesumba. Kembannya beledu abu-abu. Kainnya batik Parang Kelitik; berwiru lipat sembilan. Rambutnya hitam pekat — ikal mayang — konde malang.

 

Cuaca terang di pagi hari menarik hati si gadis jelita. Lalu bercengkerama di taman Banjaransari. Menghirup udara bersih-segar. Mata memandang kembang anggrek putih-putih — mekar segar daun bunga — wangi semerbak. Alangkah sedapnya! Burung kenari kuning-cilik menari, menyanyi-nyanyi,  menyambut si gadis  manis :  “Selamat  pagi ! Selamat pagi putri Cendera Kirana!”

 

Putri Daha, Cendera Kirana, mengulum senyum, menggigit bibir. Aduh ayunya!

 

Kupu-kupu kuning terbang kian kemari. Hinggap di daun, terbang ke bunga. Dicucupnya sari kembang. Terbang lagi — hinggap di bahu Cendera Kirana. Si kupu-kupu berbisik-bisik, “Selamat pagi putri !”

 

Kirana menoleh, kupu-kupu terbang. Seperti mengajak menari di tamansari.

 

Sang Bayu meniup perlahan-lahan; membawakan wangi-wangian kembang. Menggerakkan dedaunan. Mendesir-desir suaranya. Sayup-sayup kedengaran dua emban berdendang — menghibur hati Tuan Putri. Itulah dayang-dayang setia, Ken Sanggit dan Ken Bayan,  pengasuh putri Cendera Kirana.

 

“Wahai emban! Alangkah nyaman hatiku di taman melihat bunga-bunga warna-warni. Yang putih, yang merah, yang biru, yang ungu semua ada. Semua wangi. Indah-indah semua. Menarik hati. Burung-burung pada berkicau — pada menari — girang semua. Tidakkah kalian senang hidup begini ?”

 

Ken Sanggit genit lekas menjawab, “Oh tentu saja hamba senang, Putri. Apalagi, kalau si dia dekat di mata dekat di hati, Aduh senangnya !”

 

Ken Sanggit berkelakar. Matanya melirik kenes. Tangannya mencubit pipi Ken Bayan. Ken Bayan membalas mencubit dagu Ken Sanggit. Pura-pura hatinya gemas! Berkata menyambut kelakar, “Aduh genitnya !”

 

Keduanya tertawa-tawa. Terus berpantun madah jenaka. Saling menyindir. Menyanyi bersama-sama. Melipur hati Cendera Kirana.

 

Cendera Kirana turut tertawa. Hatinya senang. Terus berjalan perlahan-lahan,  diiringkan para emban  setia, menuju kolam  di tengah taman.

 

Di sana kelihatan seorang gadis yang hampir sebaya dengan Kirana. Galuh Ajeng namanya, putri Baginda Raja dari selir yang paling muda. Selir kekasih, Paduka Liku namanya.

 

Galuh Ajeng gadis rupawan juga. Tetapi sayang, hatinya pendengki. Maklumlah, karena dia putri Baginda dari selir yang kasar tabiatnya. Sedangkan Cendera Kirana, putri Baginda dari permaisuri — keturunan ratu budiman.

 

Galuh Ajeng melihat Kirana memakai undung-undung sutra kesumba hatinya iri. Matanya melirik sengit. Mukanya memberungut. Kaki disepakkan ke tanah. Membuang muka. Angkat kaki — terus buru-buru menuju Paduka Liku di pesanggrahan. Duduk di tanah, lalu merengek seperti anak kecil manja.  Galuh Ajeng  mengoceh.  Menunjuk-nunjuk Kirana. Katanya, “Aduh ibu ! Mengapa hamba sangat dibedakan dari si Kirana. Undung-undung hamba sutra biru jelek. Undung-undung si Kirana sutra kesumba indah. Tiada dayang yang suka menemani hamba. Tetapi lihat! Kirana selalu didampingi dayang-dayang. Dilipur hatinya. Didendangkan nvanyian, dipantunkan madah jenaka, dipetikkan warna-warni bunga. Aduh ibu, hati hamba sakit! Mengapa Baginda Raja pilih kasih? Hamba lebih baik mati dari pada melihat si Kirana.”

 

Galuh Ajeng tak henti-henti menangis meratap, menyesali diri. Tanpa merasa malu kepada siapa pun yang melihat.

 

Paduka Liku bangkit — terus merangkul Galuh Ajeng. Kepala si anak diusap-usap. Tapi hatinya dibakar dengan kata-kata busuk yang meluncur dari mulutnya, “O, anakku jangan engkau menangis juga. Sudah begini nasib kita orang desa. Jangan ingin disamakan dengan putri Baginda. Memang betul! Baginda berlaku pilih kasih. Kirana selalu dimenangkan, senantiasa dilebihkan dari engkau. Lebih baik kita pulang ke desa dari pada hidup sengsara di sini.”

 

Sri Baginda terharu hatinya mendengar, lalu mencumbu Paduka Liku dan Galuh Ajeng. Keduanya diraih Baginda, diajak duduk sejajar.

 

Baginda memanggil Cendera Kirana, lalu menyuruh menyerahkan undung-undungnya kepada Galuh Ajeng. Tetapi Kirana menolak. Ia pulang ke istana diikuti Mahadewi (selir yang tertua) dan dayang-dayang. Sri Baginda gusar hatinya, tetapi juga bingung. Sebab Baginda tak menyangka Kirana berani membangkang. Baginda hendak murka, tetapi malu kepada permaisuri.

 

Untuk melipur hati, Kirana main anak-anakan di puri Mahadewi. Boneka digendong dan dinyanyikan. Dipeluk dicumbu-cumbu ditimang-timang. Tingkahnya seperti ibu sedang mengemong anak.

 

Tiba-tiba Galuh Ajeng  muncul lalu  menghampiri Cendera Kirana. Boneka Kirana hendak direbutnya sekali. Tetapi cepat-cepat Cendera Kirana mengelak. Tangan Galuh Ajeng dikibaskan. Merah padam muka Galuh Ajeng karena merasa malu kepada dayang-dayang dan Mahadewi. Ken Sanggit dan Ken Bayan tertawa tertahan-tahan sambil menutup muka dengan tangan. Mahadewi membuang muka. Hatinya mual melihat tingkah laku Galuh Ajeng yang kasar itu.

 

Bukan main-main malu Galuh Ajeng. Cepat-cepat ia berlari kepada Paduka Liku ! Mengadu lagi sambil menangis. Berguling-guling di tanah seperti orang mabuk buah jengkol. Paduka Liku seperti orang kalap tingkahnya. Menjerit-jerit minta tolong. Tangannya menarik-narik rambut kepala sehingga perempuan itu tiada bedanya dengan orang-orangan di tengah sawah. Dayang-dayang yang hendak menolong ibu dan anak yang sedang kalap itu tidak berhasil mencumbu. Siapa yang mendekat dimaki-maki, disumpahi, diusir-usir. Para emban bingung. Ada yang lari ke sana kemari sambil berteriak-teriak minta tolong. Ada juga yang berdiri melongo saja.

 

Datanglah Sri Baginda tergopoh-gopoh. Galuh Ajeng diangkat dari  tanah lalu dibaringkan di tempat tidur. Paduka Liku dipeluk sambil dicumbu dengan kata-kata manis.

 

“Ah, dinda yang paling manis. Jangan menangis, sayang ! Kasihani kakanda. Kakanda tak sampai hati melihat dinda buah hatiku bersedih hati. Mari kanda tolong. Ayo bersama-sama dengan kanda duduk-duduk di balai peranginan. Marilah wong ayu.”

 

Paduka Liku dirangkul, lalu digendong dibawa ke balai peranginan.

 

“Ada apa? Mengapa dinda membikin kaget kakanda. Cup …. cup …. Jangan menangis, wong ayu belahan hati.”

 

Baginda mengeringkan air mata dari pipi dan mata Paduka Liku. Kemudian menyisiri rambut Paduka Liku yang kusut. Baginda memperlihatkan benar kasih sayangnya kepada  Paduka Liku,  seperti orang kena pekasih.

 

Paduka Liku terbelai hatinya. Ia berhenti menangis. Hanya sedu-sedannya juga yang masih kedengaran.

 

“Oh, kanda junjungan hamba.” Paduka Liku mulailah membalas membelai hati Baginda.  “Betul-betulkah kanda masih cinta kepada hamba ?”

 

Baginda melihat keheran-heranan.

 

“Mengapa dinda bertanya demikian ? Ragu-ragukah dinda akan cinta mesra kanda kepada dinda? Oh, dinda! Jangan dinda ragu-ragu. Jiwa raga, harta kekayaan kanda adindalah yang punya.”

 

Paduka Liku terus dipeluk dan dibelai-belai Baginda.

 

“Jika kanda tak cinta lagi kepada dinda, katakanlah terus terang. Supaya dinda boleh pulang ke desa. Tidak usah adinda menyiksa diri dalam neraka seperti keraton ini.”

 

“Tidak ! Adinda tak boleh meninggalkan kanda!”

 

Alangkah senang hati Paduka Liku mendengar janji Baginda sedemikian. Maka tibalah waktunya bagi Paduka Liku untuk mengumpat, menjelek-jelekkan Cendera Kirana. Ya, bahkan permaisuri dan Mahadewi pun hendak dikhianatinya.

 

Baginda Raja bermenung. Memandang ke gumpalan-gumpalan awan hitam di langit yang hendak menutupi sinar cahaya sang Surya. Dan bila langit mendung, maka hujan pun bakal turun dibarengi gemuruhnya angin dan dentaman petir.

 

Fitnah dan umpat Paduka Liku kepada orang-orang yang dibencinya, ibarat gumpalan-gumpalan awan di langit itu dengan segala akibatnya dapat menghancurkan isi istana.***

 

Posted on November 4, 2011, in DONGENG. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: