Cabang Linguistik

 

Bab 2 Beberapa Cabang Ilmu Linguistik

Bab ini akan menguraikan lebih lanjut tentang cabang ilmu linguistik secara garis besar, yang

meliputi fonetik dan fonologi, morfologi sintaksis dan semantik. Disamping itu juga dibahas

ilmu inter disipliner dari linguistik ini.

A. BIDANG-BIDANG LINGUISTIK

Setiap ilmu pengetahuan lazim dibagi atas bidang-bidang “bawahan”, atau “cabang”.

Misalnya, ilmu kimia dibagi atas kimia organik dan kimia anorganik. Atau ilmu psikologi

dapat dibagi antara lain atas psikologi klinis dan psikologi sosial. Memang setiap ilmu

pengetahuan meliputi bahan yang luas sekali, dan demi alasan praktis para ahli suka membagi

ilmunya menjadi berbagai bidang bawahan atau cabang ilmunya.

Demikian pula ilmu linguistik lazimnya dibagi menj adi bidang bawahan yang bermacam-

macam, misalnya saja, ada linguistik antropogis, yang cara penyelidikan linguistik yang

dimanfaatkan oleh para ahli antropologi budaya; ada juga linguistik sosiologis, atau (lebih

lazim) sosiolinguistik, untuk meneliti bagaimanakah dalam bahasa itu dicerminkan hal-hal

sosial dalam golongan penutur tertentu. Dewasa ini semakin berkembanglah apa yang

disebut linguistik komputasional, yaitu penelitian linguistik dengan bantuan komputer.

Akan tetapi, bidang-bidang bawahan tadi semuanya mengandaikan adanya pengetahuan

linguistik yang mendasarinya. Bidang yang mendasari itu adalah bidang yang menyangkut

struktur-struktur dasar tertentu, yaitu: struktur bunyi bahasa, yang bidangnya disebut

“fonetik” dan “fonologi”; struktur kata, yang namanya “morfologi”; struktur antar-kata

dalam kalimat, yang namanya “sintaksis”; masalah arti atau makna, yang namanya “semantik”;

hal-hal yang menyangkut siasat komunikasi antar-orang dalam parole, atau pemakainan

bahasa, dan menyangkut juga hubungan tuturan bahasa dengan apa yang dibicarakan, yang

namanya “pragmatik”.

Morfologi dan sintaksis bersama-sama lazimnya disebut “tatabahasa”. Tatabahasa itu

menyangkut kata, struktur “internal”di dalamnya (morfologi), dan struktur antar-kata

(sintaksis); dan keduanya dibedakan dengan “leksikon” atau perbendaharaan kata. Penelitian

“leksikon” itu disebut “leksikologi”.

Di antara bidang-bidang “dasariah” tadi dibedakan juga antara linguistik “sinkronik”

dan linguistik “diakronik”. Misalnya, penelitian sinkronik tentang bahasa Indonesia menangani


Page 2

kaidah bahasa Indonesia pada zaman sekarang. Sebaliknya, penelitian diakronik (atau

“historis”) memaparkan tentang “sejarah” bahasa. Sebagai contoh perhatikanlah bentuk pun

dalam bahasa Indonesia. Bentuk tersebut memenuhi fungsi-fungsi tertentu dalam bahasa

Indonesia modern, dan penelitian terhadap fungsi tersebut adalah penelitian “sinkronik”.

Sebaliknya, dalam bahasa Melau Klasik, bentuk kecil (atau “partikel”) pun yang “sama” agak

lain fungsinya, seperti dapat dibuktikan oleh penelitian “diakronik”.

Hanya cabang-cabang linguistik yang “dasariah” itulah yang di bahas dalam buku ini.

B. FONETIK DAN FONOLOGI

Tuturan bahasa terdiri atas bunyi. Bukan sembarang bunyi saja, melainkan bunyi tertentu,

yang agak berbeda-beda menurut bahasa tertentu. Bunyi tersebut diselidiki oleh fonetik dan

fonologi. Fonetik meneliti bunyi bahasa menurut cara pelafalannya, dan menurut sifat-sifat

akustiknya. Berbeda dengan fonetik, ilmu fonologi meneliti bunyi bahasa tertentu menurut

fungsinya.

Misalnya saja, bunyi [p]-lazimnya bunyi menurut sifat fonetisnya diapit antara kurung

persegi – dalam bahasa Inggris dilafalkan dengan menutup kedua bibir lalu melepaskannya

sehingga udara keluar dengan “meletup”. Deskripsi seperti itu adalah deskripsi fonetis.

Deskripsi yang demikian dapat disempurnakan lebih terinci. Misalnya, dalam kata (Inggris)

pot, [ph]-nya “beraspirasi”, artinya disusul bunyi seperti bunyi [h] (oleh karena [ph] dalam pot

adalah satu-satunya bunyi “letupan” pada awal kata); akan tetapi dalam kata spot, [p]-nya

tidak “beraspirasi” demikian “(karena tidak merupakan satu-satunya “konsonan” pada awal

kata). Perbedaan tersebut adalah perbedaan fonetis semata-mata, tidak fonologis.

Dua bunyi yang secara fonetis berbeda dikatakan mempunyai perbedaan fonologis bila

perbedaan tersebut menyebabkan perbedaan makan antara dua kata. Misalnya saja, dalam

bahsa Indonesia [1] dan [r] berbeda secara fungsional, atau secara fonologis, karena

membedakan kata seperti dalam pasangan rupa : lupa. Maka untuk bahasa Indonesia /1/ dan

/r/ merupakan “fonem” yang berbeda (lazimnya, lambang fonem diapit antara garis miring).

Sebaliknya, dalam bahasa Jepang, [l]dan [r] tidak pernah membeda kata-kata yang berbeda;

atau, dengan perkataan lain, tidak berbeda secara fonologis, tidak merupakan fonem yang

berbeda.

C. MORFOLOGI

Ilmu morfologi menyangkut struktur “internal” kata. Beberapa contoh akan menjelaskan hal

itu.

Perhatikanlah kata seperti tertidur. Kata ini terdiri atas dua “morfem”, yakni ter- dan

tidur (ter- diberi garis karena tidak pernah berdiri sendiri). Jadi kata tertidur mempunyai

struktur “internal” dengan bagian-bagiannya ter- dan tidur. Penganalisisan seperti itu disebut

“morfologi”. Kata tidur itu sendiri terdiri atas satu morfem saja, yaitu tidur, perhatikanlah

juga kata Inggris comfort; satu morfem saja. Kata comfort-able terdiri atas dua morfem

(dipisahkan di sini dengan garis penghubung). Kata un-comfort-able terdiri atas tiga morfem.


Page 3

D. SINTAKSIS

Sintaksis adalah cabang linguistik yang menyangkut susunan kata-kata di dalam kalimat.

Sebagai misal saja, di dalam bahasa Indonesia kalamat “Kami tidak dapat melihat pohon itu”,

urutan katanya sudah tentu – tidak mungkin kita tuturkan “kalimat” seperti *Pohon itu dapat

kami tidak melihat (binatang kecil, atau “asterik”, pada awal melambangkan tidak “beresnya”

“kalimat” seperti itu). Demikian pula, urutan kata dalam “kalimat” Inggris seperti *We not

tree that see can menyalahi aturan – struktur yang sesuai adalah We cannot see that tree.

Sebagaimana halnya morfologi menyangkut struktur “internal” kata, maka sintaksis

berurusan dengan struktur antar-kata itu, atau struktur “eksternal”.

E. KAITAN ANTARA T AT AB AH AS A, FONOLOGI, DAN FONETIK

Morfologi dan sintaksis tentunya saling berhubungan erat. Dalam kalimat Indonesia tadi,

Kami tidak dapat me-lihat pohon itu, morfem me- dengan cara tertentu mempengaruhi

struktur kalimat. Bila me- itu dihilangkan, urutan kata dapat berubah juga, seperti dalam

kalimat Pohon itu tidak dapat kita lihat.

Morfologi dan sintaksis bersama-sama termasuk “tatabahasa”. Fonetik dan fonologi

tidak termasuk tatabahasa. Maka dari itu hal-hal yang dipaparkan sampai sejauh ini sudah

menunjukkan adanya suatu “hierarki”, seperti terlihat dalam bagan berikut:

sintaksis

>;•;.. tatabahasa

morfologi

fungsional

r’v–“fonologi”

dasar fisik : fonetik f 7 ‘ ‘..’•”•” ’77,= -SJÍ’tJÍjI?

Fonetik ditempatkan paling bawah, karena hanya menyangkut bunyi bahasa dari sudut

“fisik”. Fonologi membedakan fonem-fonem dalam bahasa tertentu, dan masing-masing

fonem membedakan kata-kata menurut artinya (seperti dalam hal rupa : lupa tadi). Jadi


Page 4

fonologi sungguh-sungguh termasuk struktur bahasa, dan bersifat “fungsional”, namun tidak

termasuk tatabahasa. Akhirnya, pada bagian paling atas dalam hierarki ini, dapat kita

tempatkan tatabahasa, dan di dalam tatabahasa itu yang paling atas adalah sintaksis, dengan

morfologi di bawahnya.

F. LEKSIKOLOGI

Istilah “leksikon” dalam ilmu linguistik berarti perbendaharaan kata-kata itu sendiri sering

disebut “leksem”. Cabang linguistik yang berurusan dengan leksikon itu disebut “leksikologi”.

Istilah “leksikologi” agak jarang dipakai, karena urusan utama para ahli leksikologi” agak

jarang dipakai, karena urusan utama para ahli leksikologi adalah penyusunan kamus, dan

penyusunan kamus disebut “leksikografi”. Leksikografi itu tidak lain adalah bentuk “terapan”

dari leksikologi.

Setiap bahasa mempunyai perbendaharaan kata yang cukup besar, meliputi puluhan ribu

kata. Setiap kata mempunyai arti, atau makna, sendiri, dan urusan leksikografi tidak lain

adalah pemerian arti masing-masing leksem.

Leksikologi jelas berhubungan leksikon dengan struktur fonologis itu, ada beberapa segi

yang menarik perhatian, tetapi di sini akan disebutkan satu saja. Bandingkan leksem-leksem

Inggris meat dan flesh. Perbendaan kedua leksem tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut;

apa yang dirujuk dengan kata meat dapat dimakan, apa yang dirujuk dengan kata flesh tidak.

Akan tetapi, dalam bahasa Indonesia kedua-duanya termasuk leksem daging, atau dalam

leksem Belanda vlees. Jadi, yang debedakan dalam bahasa Inggris adalah menurut “mungkin

tidaknya dimakan”, sedangkan dalam bahasa Indonesia dan bahasa Belanda tidak ada

perbedaan dalam hal itu. Contoh sederhana ini menunjukkan adanya sistem leksikal yang

lebih berbelit-belit dalam bahasa tertentu bila dibandingkan dengan bahasa tertentu yang lain.

G. SEMANTIK

Semantik adalah cabang linguistik yang membahas arti atau makna. Contoh jelas dari perian

atau “deskripsi” semantis adalah leksikografi: masing-masing leksem diberi perian artinya

atau maknanya; perian semantis.

Di pihak lain, semantik termasuk tatabahasa juta. Contohnya adalah morfologi. Dalam

bentuk (Inggris) un-comfort-able, morfem un- jelas mengandung arti “tidak”; uncomfortable

artinya sama dengan not comfortable. Demikian pula, bentuk Indonesia memper-tebal

mengandung morfem memper-, yang artinya boleh disebut “kausatif”; maksudnya,

mempertebal artinya ‘menyebabkan sesuatu menjadi lebih tebal’ (perian makna dalam ilmu

linguistik lazim dilambangkan dengan mengapitnya antara tanda petik tunggal).

Di dalam sintaksis ada pula unsur semantis tertentu. Satu contoh saja di sini keranya

memadai. Analisislah kalimat Saya membangun rumah. Saya disebut “Subjek”, dan subjek

itu adalah ‘Pelaku’ kegiatan tertentu (yaitu membangun). Sebaliknya, rumah (dalam kalimat

tadi) “menderita” kegiatan membangun, dan boleh disebut ‘Penderita’. Jadi makna tertentu

pasti ada dalam sintaksis, meskipun tentunya bukan makna leksikal; makna itu disebut

“makna gramatikal”.


Page 5

H. PRAGMATIK

Sebenarnya dikatakan tadi, “pragmatik” itu merupakan cabang ilmu linguistik yang membahas

tentang apa yang termasuk struktur bahasa sebagai alat komunikasi antara punutur dan

pendengar, dan sebagai pengacuan tanda-tanda bahasa pada hal-hal “ekstralingual” yang

dibicarakan.

Di sini hanya satu dua contoh saja memadai. Perhatikanlah kalimat Inggris John went

home and had a snack. Di sini ada dua klausa: John went home, dan John had a snack. Kedua

klausa tersebut digabungkan menjadi satu kalimat. Catatlah bahwa “Subjek” John dalam

klausa kedua dihilangkan. Dalam analisis linguistik pelesapan Subjek itu sering dilambangkan

dengan simbol – (angka nol tembus garis miring), sehingga kalimat tadi dapat diberi bentuk

John went home and-had a snack. Subjek kedua menjadi “nol” karena tidak dibutuhkan oleh

pendengar untuk mengerti apa yang dituturkan. Dengan perkataan lain, Subjek kedua

dilesapkan demi kemudahan komunikasi. Demikian pula dalam kalimat Indonesia Suryanto

pulang dan – mengambil makanan kecil.

Daripada melesapkan Subjek kedua kita dapat juga memakai he atau dia dalam kalimat-

kalimat tadi : [8] and he had a snack, dan [9] dan dia mengambil makanan kecil. (Titik-titik

yang diapit antara kurung persegi sering dipakai untuk menghilangkan sebagian dari suatu

teks.) He dan dia mengacu pada John, dan hal itu dimengerti oleh pendengar karena John

telah desebut terlebih dahulu, yaitu John.

kebutuhan komunikasi dan pengacuan termasuk juga dalam struktru bahasa, dan struktur

tersebut dapat agak berbeda-beda dalam bahasa-bahasa yang berlainan.

/. LINGUISTIK SINKRONIK DAN LINGUISTIK DIAKRONIK

Kedua istilah itu berasal dari Ferdinand de Saussure. Pada abad ke 19 hampir seluruh bidang

linguistik merupakan linguistik historis, khususnya menyangkut bahasa-bahasa Indo-Eropa.

Yang diteliti pada zaman itu adalah, misalnya, bagaimanakah bahasa Yunani Kuno dan

bahasa Latin menunjukkan keserumpunan. Hal tersebut ditemukan berkat penelitian tentang

bahasa Sanskerta. Pada abad itu diteliti pula bagaimanakah rumpun bahasa-bahasa German

(seperti Bahasa Jerman, bahasa Belanda, bahasa Inggris, dan bahasa-bahasa Skandinavia)

saling berhubungan secara historis ; dan bagaimanakah bahasa-bahasa Roman (seperti bahasa

Prancis, bahasa Oksitan, bahasa Spanyol, bahasa Portugis, dan lain sebagainya) diturunkan

dari bahasa Latin.

Dalam bukunya Cours de linguistique generale, de Saussure menganjurkan suatua studi

bahasa yang tidak hanya meneliti hal-hal yang historis (“diakronik”, istilahnya), tetapi juga

“struktur” bahasa tertentu tanpa memperhatikan segi diakroniknya-penelitian baru itu

dinamainya “sinkronik”. Secara sinkronik, umpamanya, kita dapat bertanya bagaimana

sekarang ini hubungan antara awalan ber- dan men-, tanpa memperdulikan tentang awalan

yang dulu (dalam bahasa Melayu Kuno) pernah menjadi sumber dari kedua awalan tersebut,

yaitu awalan mar-. Demikian pula, untuk bahasa Inggris bila diteliti secara sinkronik, tidak

perlu dihiraukan tiadanya akhiran untuk ajektiva, meskipun ada banyak akhiran yang

demikian dalam bahasa Inggris kuno, sebelum tahun 1000 Masehi.

10


Page 6

Dalam buku ini hanya linguistik sinkronik saja yang dipaparkan, sebagai persiapan

untuk mengadakan penelitian tentang bahasa Indonesia dan bahasa lainnya yang belum

punah. Meskipun demikian, di sana-sini akan diberi beberapa contoh pula dari bahasa-bahasa

yang sudah punah, tetapi juga dari sudut sinkronik, yaitu tanpa memperhatikan sejarahnya

sebelumnya. Akan tetapi perlu disadari bahwa linguistik diakronik itu penting juga. Misalnya

saja, bila kita tahu tatabahasa bahasa Melayu Kuno, akan lebih mudahlah bagi kita untuk

membuka perspektif baru untuk penelitian bahasa Indonesia yang sekarang.

J. LINGUISTIK TEORITIS

Banyak ilmu biasanya dibedakan menurut aspek teoretisnya dan manfaatnya secara praktis.

Misalnya, ilmu psikologi meneliti pengalaman manusia menurut perkembangannya, emosinya,

perasaannya, wataknya, hubungannya dengan sesama manusia, dan lain sebagainya. Dalam

bidang kaunseling, psikologi “diterapkan” pada persoalan konkret, dan disebut psikologi

terapan.

Di atas sudah disebut bahwa bidang leksikologi, yaitu penelitian semantis tentang

perbendaharaan kata, dapat dimanfaatkan untuk “leksikografi” atau penyusunan kamus.

Dengan demikian leksikografi dapat disebut leksikologi terapan.

Demikian pula, pengetahuan dan penguasaan bidang linguistik banyak sekali manfaatnya

untuk pengajaran bahasa. Misalnya, mengapa orang Indonesia mengalami kesulitan dalam

berbagai hal, bila belajar bahasa Inggris? Salah satu contoh kesulitan itu adalah pemakaian

kata sandang (atau “artikel”) Inggris the. Pengajar bahasa Inggris di Indonesia akan

memahami kesulitan itu dengan lebih baik bila ia mempunyai pengetahuan yang memadai

tentang “kedefinitan” dalam bahasa Indonesia dan dalam bahasa Inggris. Maka pemanfaatan

pengetahuan linguistik dalam pengajaran bahasa asing adalah salah satu bentuk linguistik

terapan.

Dewasa ini linguistik juga dimanfaatkan untuk penyusunan program-program komputer,

seperti terjemahan dengan bantuan komputer. (Disunting dari: J.W.M. Verhaar)

11

 

Posted on November 4, 2011, in MATERI KULIAH. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: