Kumpulan Puisi Taufik Ismail


 

1946 : Larut Malam Suara Sebuah Truk

Oleh :

Taufiq Ismail

 

Sebuah Lasykar truk

Masuk kota Salatiga

Mereka menyanyikan lagu

‘Sudah Bebas Negeri Kita’

Di jalan Tuntang seorang anak kecil

Empat tahun terjaga :


 

‘Ibu, akan pulangkah Bapa,

dan membawakan pestol buat saya ?’

(1963)

 

Budaja Djaja

Thn. VI, No. 61

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Juni 1973

Bagaimana Kalau

 

Bagaimana kalau dulu bukan khuldi yang dimakan Adam,

tapi buah alpukat,

Bagaimana kalau bumi bukan bulat tapi segi empat,

Bagaimana kalau lagu Indonesia Raya kita rubah,

dan kepada Koes Plus kita beri mandat,

Bagaimana kalau ibukota Amerika Hanoi,

dan ibukota Indonesia Monaco,

Bagaimana kalau malam nanti jam sebelas,

salju turun di Gunung Sahari,

Bagaimana kalau bisa dibuktikan bahwa Ali Murtopo, Ali Sadikin

dan Ali Wardhana ternyata pengarang-pengarang lagu pop,

Bagaimana kalau hutang-hutang Indonesia

dibayar dengan pementasan Rendra,

Bagaimana kalau segala yang kita angankan terjadi,

dan segala yang terjadi pernah kita rancangkan,

Bagaimana kalau akustik dunia jadi sedemikian sempurnanya sehingga di

kamar tidur kau dengar deru bom Vietnam, gemersik sejuta kaki

pengungsi, gemuruh banjir dan gempa bumi sera suara-suara

percintaan anak muda, juga bunyi industri presisi dan

margasatwa Afrika,

Bagaimana kalau pemerintah diizinkan protes dan rakyat kecil

mempertimbangkan protes itu,

Bagaimana kalau kesenian dihentikan saja sampai di sini dan kita

pelihara ternak sebagai pengganti

Bagaimana kalau sampai waktunya

kita tidak perlu bertanya bagaimana lagi.

 

Bayi Lahir Bulan Mei 1998

 

Dengarkan itu ada bayi mengea di rumah tetangga

Suaranya keras, menangis berhiba-hiba

Begitu lahir ditating tangan bidannya

Belum kering darah dan air ketubannya

Langsung dia memikul hutang di bahunya

Rupiah sepuluh juta

 

Kalau dia jadi petani di desa

Dia akan mensubsidi harga beras orang kota

Kalau dia jadi orang kota

Dia akan mensubsidi bisnis pengusaha kaya

Kalau dia bayar pajak

Pajak itu mungkin jadi peluru runcing

Ke pangkal aortanya dibidikkan mendesing

 

Cobalah nasihati bayi ini dengan penataran juga

Mulutmu belum selesai bicara

Kau pasti dikencinginya.

 

1998

 

 

 

 

 

 

Buku Tamu Musium Perjuangan

Oleh :

Taufiq Ismail

 

Pada tahun keenam

Setelah di kota kami didirikan

Sebuah Musium Perjuangan

Datanglah seorang lelaki setengah baya

Berkunjung dari luar kota

Pada sore bulan November berhujan

dan menulis kesannya di buku tamu

Buku tahun keenam, halaman seratus-delapan

 

Bertahun-tahun aku rindu

Untuk berkunjung kemari

Dari tempatku jauh sekali

Bukan sekedar mengenang kembali

Hari tembak-menembak dan malam penyergapan

Di daerah ini

Bukan sekedar menatap lukisan-lukisan

Dan potret-potret para pahlawan

Mengusap-usap karaben tua

Baby mortir buatan sendiri

Atau menghitung-hitung satyalencana

Dan selalu mempercakapkannya

 

Alangkah sukarnya bagiku

Dari tempatku kini, yang begitu jauh

Untuk datang seperti saat ini

Dengan jasad berbasah-basah

Dalam gerimis bulan November

Datang sore ini, menghayati musium yang lengang

Sendiri

Menghidupkan diriku kembali

Dalam pikiran-pikiran waktu gerilya

Di waktu kebebasan adalah impian keabadian

Dan belum berpikir oleh kita masalah kebendaan

Penggelapan dan salahguna pengatasnamaan

 

Begitulah aku berjalan pelan-pelan

Dalam musium ini yang lengang

Dari lemari kaca tempat naskah-naskah berharga

Kesangkutan ikat-ikat kepala, sangkur-sangkur

berbendera

Maket pertempuran

Dan penyergapan di jalan

Kuraba mitraliur Jepang, dari baja hitam

Jajaran bisu pestol Bulldog, pestol Colt

 

 

 

 

 

 

 

 

Pengoemoeman Repoeblik Yang Mulai Berdebu

 

Gambar lasykar yang kurus-kurus

Dan kuberi tabik khidmat dan diam

Pada gambar Pak Dirman

Mendekati tangga turun, aku menoleh kembali

Ke ruangan yang sepi dan dalam

Jendela musium dipukul angin dan hujan

Kain pintu dan tingkap bergetaran

Di pucuk-pucuk cemara halaman

Tahun demi tahun mengalir pelan-pelan

 

Deru konvoi menjalari lembah

Regu di bukit atas, menahan nafas

 

Di depan tugu dalam musium ini

Menjelang pintu keluar ke tingkat bawah

Aku berdiri dan menatap nama-nama

Dipahat di sana dalam keping-keping alumina

Mereka yang telah tewas

Dalam perang kemerdekaan

Dan setinggi pundak jendela

Kubaca namaku disana…..

 

 

 

 

 

 

 

GUGUR DALAM PENCEGATAN

TAHUN EMPATPULUH-DELAPAN

 

Demikian cerita kakek penjaga

Tentang pengunjung lelaki setengah baya

Berkemeja dril lusuh, dari luar kota

Matanya memandang jauh, tubuh amat kurusnya

Datang ke musium perjuangan

Pada suatu sore yang sepi

Ketika hujan rinai tetes-tetes di jendela

Dan angin mengibarkan tirai serta pucuk-pucuk cemara

Lelaki itu menulis kesannya di buku-tamu

Buku tahun-keenam, halaman seratus-delapan

Dan sebelum dia pergi

Menyalami dulu kakek Aki

Dengan tangannya yang dingin aneh

Setelah ke tugu nama-nama dia menoleh

Lalu keluarlah dia, agak terseret berjalan

Ke tengah gerimis di pekarangan

Tetapi sebelum ke pagar halaman

Lelaki itu tiba-tiba menghilang

 

 

 

 

 

 

 

 

Dari Catatan Seorang Demonstran

 

Inilah peperangan

Tanpa jenderal, tanpa senapan

Pada hari-hari yang mendung

Bahkan tanpa harapan

 

Di sinilah keberanian diuji

Kebenaran dicoba dihancurkn

Pada hari-hari berkabung

Di depan menghadang ribuan lawan

 

1966

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dari Ibu Seorang Demonstran

 

“Ibu telah merelakan kalian

Untuk berangkat demonstrasi

Karena kalian pergi menyempurnakan

Kemerdekaan negeri ini”

 

Ya, ibu tahu, mereka tidak menggunakan gada

Atau gas airmata

Tapi langsung peluru tajam

Tapi itulah yang dihadapi

Ayah kalian almarhum

Delapan belas tahun yang lalu

 

Pergilah pergi, setiap pagi

Setelah dahi dan pipi kalian

Ibu ciumi

Mungkin ini pelukan penghabisan

(Ibu itu menyeka sudut matanya)

 

Tapi ingatlah, sekali lagi

Jika logam itu memang memuat nama kalian

(Ibu itu tersedu sedan)

 

Ibu relakan

Tapi jangan di saat terakhir

Kau teriakkan kebencian

Atau dendam kesumat

Pada seseorang

Walapun betapa zalimnya

Orang itu

 

Niatkanlah menegakkan kalimah Allah

Di atas bumi kita ini

Sebelum kalian melangkah setiap pagi

Sunyi dari dendam dan kebencian

Kemudian lafazkan kesaksian pada Tuhan

Serta rasul kita yang tercinta

 

pergilah pergi

Iwan, Ida dan Hadi

Pergilah pergi

Pagi ini

 

(Mereka telah berpamitan dengan ibu dicinta

Beberapa saat tangannya meraba rambut mereka

Dan berangkatlah mereka bertiga

Tanpa menoleh lagi, tanpa kata-kata)

 

 

1966

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

D o a

 

Tuhan kami

Telah nista kami dalam dosa bersama

Bertahun-tahun membangun kultus ini

Dalam pikiran yang ganda

Dan menutupi hati nurani

 

Ampunilah kami

Ampunilah

Amin

 

Tuhan kami

Telah terlalu mudah kami

Menggunakan AsmaMu

Bertahun di negeri ini

Semoga Kau rela menerima kembali

Kami dalam barisanMu

 

Ampunilah kami

Ampunilah

Amin

 

1966

 

 

 

 

 

 

Jalan Segara

 

 

Di sinilah penembakan

Kepengecutan

Dilakukan

 

Ketika pawai bergerak

Dalam panas matahari

 

Dan pelor pembayar pajak

Negeri ini

 

Ditembuskan ke pungung

Anak-anaknya sendiri

 

 

1966

 

 

 

 

 

 

 

 

Jawaban Dari Pos Terdepan

Oleh :

Taufiq Ismail

 

 

Kami telah menerima surat saudara

Dan sangat paham akan isinya

Tetapi tentang pasal penyerahan

Itu adalah suatu penghinaan

 

 

Konvoi sejam lamanya menderu

Di kota. Api kavaleri memancar-mancar

Di roda-rantai dan aspal

 

Angin meniup dalam panas dan abu

Abu baja. Nyala yang menggeletar-geletar

Sepanjang suara

 

 

Kami yang bertahan

Beberapa ratus meter jauhnya

Bukanlah serdadu-serdadu bayaran

Atau terpaksa berperang karena pemerintahan

 

 

Kebebasan manusia di atas buminya

Adalah penyebab hadir pasukan ini

Dan pasukan-pasukan lainnya

 

Impian akan harga kemerdekaan manusia

mengumpulkan seorang tukang cukur, penanam-penanam sayur

gembala-gembala, (semua buta huruf) kecuali dua anak SMT

sopir taksi dan seorang mahasiswa kedokteran

dalam pasukan

di pos terdepan ini

 

Terik dan lengang dipandang tak bertuan

Abu naik perlahan dari bumi

Bumi yang telah diungsikan

 

Guruh dari jauh, konvoi menderu

Suara panser dan tank-tank kecil

Mengacukan senjata-senjata baru

 

Kami tidak punya batalion paratroop

Cadangan sulfa, apalagi mustang dan lapis-baja

Kami hanya memiliki karaben-karaben tua

Bahkan bambu pedesaan, ujungnya diruncingkan

 

Pasukan ini tak bicara dalam bahasa akademi militer

Tidak juga memiliki pengalaman perang dunia

Tetapi untuk kecintaan akan kebebasan manusia

Di atas buminya

Pasukan ini sudah menetapkan harganya

 

Sebentar lagi malampun akan turun

membawa kesepian ajal adalam gurun

 

 

Tidakkah engkau bisa menempatkan diri

sebentar, di tempat kami

Memikirkan bahwa ibumu tua diungsikan

tersaruk-saruk berjalan kaki

Setelah rumah-rumah di kampungmu dibakari

setelah adik kandungmu ditembak mati

 

Adakah demi lain, yang mengatasi

demi kemanusiaan ?

Adakah ?

 

Di seberang sini berjaga pengawalan

Tanpa gardu dan kemah, berbaju lusuh dalam semak

Dialah yang terdepan dengan sepucuk Lee & Field

Dialah huruf pertama dari Republik

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Indonesia,

17 Agustus 1965

Sajak-sajak Perjuangan dan Nyanyian Tanah Air

 

Kalian Cetak Kami Jadi Bangsa Pengemis,

Lalu Kalian Paksa Kami

Masuk Masa Penjajahan Baru,

Kata Si Toni

 

Kami generasi yang sangat kurang rasa percaya diri

Gara-gara pewarisan nilai, sangat dipaksa-tekankan

Kalian bersengaja menjerumuskan kami-kami

Sejak lahir sampai dewasa ini

Jadi sangat tepergantung pada budaya

Meminjam uang ke mancanegara

Sudah satu keturunan jangka waktunya

Hutang selalu dibayar dengan hutang baru pula

Lubang itu digali lubang itu juga ditimbuni

Lubang itu, alamak, kok makin besar jadi

Kalian paksa-tekankan budaya berhutang ini

Sehingga apa bedanya dengan mengemis lagi

Karena rendah diri pada bangsa-bangsa dunia

Kita gadaikan sikap bersahaja kita

Karena malu dianggap bangsa miskin tak berharta

Kita pinjam uang mereka membeli benda mereka

Harta kita mahal tak terkira, harga diri kita

Digantung di etalase kantor Pegadaian Dunia

Menekur terbungkuk kita berikan kepala kita bersama

Kepada Amerika, Jepang, Eropa dan Australia

Mereka negara multi-kolonialis dengan elegansi ekonomi

Dan ramai-ramailah mereka pesta kenduri

Sambil kepala kita dimakan begini

Kita diajarinya pula tata negara dan ilmu budi pekerti

Dalam upacara masuk masa penjajahan lagi

Penjajahnya banyak gerakannya penuh harmoni

Mereka mengerkah kepala kita bersama-sama

Menggigit dan mengunyah teratur berirama

 

Sedih, sedih, tak terasa jadi bangsa merdeka lagi

Dicengkeram kuku negara multi-kolonialis ini

Bagai ikan kekurangan air dan zat asam

Beratus juta kita menggelepar menggelinjang

Kita terperangkap terjaring di jala raksasa hutang

Kita menjebakkan diri ke dalam krangkeng budaya

Meminjam kepeng ke mancanegara

Dari membuat peniti dua senti

Sampai membangun kilang gas bumi

Dibenarkan serangkai teori penuh sofistikasi

Kalian memberi contoh hidup boros berasas gengsi

Dan fanatisme mengimpor barang luar negeri

Gaya hidup imitasi, hedonistis dan materialistis

Kalian cetak kami jadi Bangsa Pengemis

Ketika menadahkan tangan serasa menjual jiwa

Tertancap dalam berbekas, selepas tiga dasawarsa

Jadilah kami generasi sangat kurang rasa percaya

Pada kekuatan diri sendiri dan kayanya sumber alami

Kalian lah yang membuat kami jadi begini

Sepatutnya kalian kami giring ke lapangan sepi

Lalu tiga puluh ribu kali, kami cambuk dengan puisi ini

 

1998

 

Kembalikan Indonesia Padaku

kepada Kang Ilen

 

Hari depan Indonesia adalah dua ratus juta mulut yang menganga,

Hari depan Indonesia adalah bola-bola lampu 15 wat,

sebagian berwarna putih dan sebagian hitam,

yang menyala bergantian,

Hari depan Indonesia adalah pertandingan pingpong siang malam

dengan bola yang bentuknya seperti telur angsa,

Hari depan Indonesia adalah pulau Jawa yang tenggelam

karena seratus juta penduduknya,

 

Kembalikan

Indonesia

padaku

 

Hari depan Indonesia adalah satu juta orang main pingpong siang malam

dengan bola telur angsa di bawah sinar lampu 15 wat,

Hari depan Indonesia adalah pulau Jawa yang pelan-pelan tenggelam

lantaran berat bebannya kemudian angsa-angsa berenang-renang di atasnya,

Hari depan Indonesia adalah dua ratus juta mulut yang menganga,

dan di dalam mulut itu ada bola-bola lampu 15 wat,

sebagian putih dan sebagian hitam, yang menyala bergantian,

Hari depan Indonesia adalah angsa-angsa putih yang berenang-renang

sambil main pingpong di atas pulau Jawa yang tenggelam

dan membawa seratus juta bola lampu 15 wat ke dasar lautan,

 

 

Kembalikan

Indonesia

padaku

 

 

Hari depan Indonesia adalah pertandingan pingpong siang malam

dengan bola yang bentuknya seperti telur angsa,

Hari depan Indonesia adalah pulau Jawa yang tenggelam

karena seratus juta penduduknya,

Hari depan Indonesia adalah bola-bola lampu 15 wat,

sebagian berwarna putih dan sebagian hitam, yang menyala bergantian,

 

Kembalikan

Indonesia

padaku

 

 

 

Paris, 1971

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ketika Burung Merpati Sore Melayang

 

Langit akhlak telah roboh di atas negeri

Karena akhlak roboh, hukum tak tegak berdiri

Karena hukum tak tegak, semua jadi begini

Negeriku sesak adegan tipu-menipu

Bergerak ke kiri, dengan maling kebentur aku

Bergerak ke kanan, dengan perampok ketabrak aku

Bergerak ke belakang, dengan pencopet kesandung aku

Bergerak ke depan, dengan penipu ketanggor aku

Bergerak ke atas, di kaki pemeras tergilas aku

 

Kapal laut bertenggelaman, kapal udara berjatuhan

Gempa bumi, banjir, tanah longsor dan orang kelaparan

Kemarau panjang, kebakaran hutan berbulan-bulan

Jutaan hektar jadi jerebu abu-abu berkepulan

Bumiku demam berat, menggigilkan air lautan

 

Beribu pencari nafkah dengan kapal dipulangkan

Penyakit kelamin meruyak tak tersembuhkan

Penyakit nyamuk membunuh bagai ejekan

Berjuta belalang menyerang lahan pertanian

Bumiku demam berat, menggigilkan air lautan

 

Lalu berceceran darah, berkepulan asap dan berkobaran api

Empat syuhada melesat ke langit dari bumi Trisakti

Gemuruh langkah, simaklah, di seluruh negeri

Beribu bangunan roboh, dijarah dalam huru-hara ini

Dengar jeritan beratus orang berlarian dikunyah api

Mereka hangus-arang, siapa dapat mengenal lagi

Bumiku sakit berat, dengarlah angin menangis sendiri

 

Kukenangkan tahun ‘47 lama aku jalan di Ambarawa dan Salatiga

Balik kujalani Clash I di Jawa, Clash II di Bukittinggi

Kuingat-ingat pemboman Sekutu dan Belanda seantero negeri

Seluruh korban empat tahun revolusi

Dengan Mei ‘98 jauh beda, jauh kalah ngeri

Aku termangu mengenang ini

Bumiku sakit berat, dengarlah angin menangis sendiri

 

Ada burung merpati sore melayang

Adakah desingnya kau dengar sekarang

Ke daun telingaku, jari Tuhan memberi jentikan

Ke ulu hatiku, ngilu tertikam cobaan

Di aorta jantungku, musibah bersimbah darah

Di cabang tangkai paru-paruku, kutuk mencekik nafasku

Tapi apakah sah sudah, ini murkaMu?

 

Ada burung merpati sore melayang

Adakah desingnya kau dengar sekarang

 

 

 

1998

 

 

Taufiq Ismail

 

 

Ketika Indonesia Dihormati Dunia

-Taufiq Ismail-

 

 

Dengan rasa rindu kukenang pemilihan umum setengah

abad yang lewat

 

Dengan rasa kangen pemilihan umum pertama itu

kucatat

 

Peristiwa itu berlangsung tepatnya di tahun lima

puluh lima

 

Ketika itu sebagai bangsa kita baru sepuluh tahun

merdeka

 

Itulah pemilihan umum yang paling indah dalam

sejarah bangsa

 

Pemilihan umum pertama, yang sangat bersih dalam

sejarah kita

 

Waktu itu tak dikenal singkatan jurdil, istilah

jujur dan adil

 

Jujur dan adil tak diucapkan, jujur dan adil cuma

dilaksanakan

 

Waktu itu tak dikenal istilah pesta demokrasi

 

Pesta demokrasi tak dilisankan, pesta demokrasi cuma

dilangsungkan

 

Pesta yang bermakna kegembiraan bersama

 

Demokrasi yang berarti menghargai pendapat berbeda

 

 

Pada waktu itu tak ada huru-hara yang menegangkan

 

Pada waktu itu tidak ada setetes pun darah

ditumpahkan

 

Pada waktu itu tidak ada satu nyawa melayang

 

Pada waktu itu tidak sebuah mobil pun digulingkan

lalu dibakar

 

Pada waktu itu tidak sebuah pun bangunan disulut api

berkobar

 

Pada waktu itu tidak ada suap-menyuap, tak terdengar

sogok-sogokan

 

Pada waktu itu dalam penghitungan suara, tak ada

kecurangan

 

Itulah masa, ketika Indonesia dihormati dunia

 

Sebagai pribadi, wajah kita simpatik berhias

senyuman

 

Sebagai bangsa, kita dikenal santun dan sopan

 

Sebagai massa kita jauh dari kebringasan, jauh dari

keganasan

 

Tapi enam belas tahun kemudian, dalam 7 pemilu

berturutan

 

Untuk sejumlah kursi, 50 kali 50 sentimeter persegi

dalam ukuran

 

Rakyat dihasut untuk berteriak, bendera partai

mereka kibarkan

 

Rasa bersaing yang sehat berubah jadi rasa dendam

dikobarkan

 

Kemudian diacungkan tinju, naiklah darah, lalu

berkelahi dan

berbunuhan

 

Anak bangsa tewas ratusan, mobil dan bangunan

dibakar puluhan

 

Anak bangsa muda-muda usia, satu-satu ketemu di

jalan, mereka sopan-

sopan

 

Tapi bila mereka sudah puluhan apalagi ratusan di

lapangan

 

Pawai keliling kota, berdiri di atap kendaraan,

melanggar semua aturan

 

Di kepala terikat bandana, kaus oblong disablon, di

tangan bendera

berkibaran

 

Meneriak-neriakkan tanda seru dalam sepuluh kalimat

semboyan dan

slogan

 

Berubah mereka jadi beringas dan siap mengamuk,

melakukan kekerasan

 

Batu berlayangan, api disulutkan, pentungan

diayunkan

 

Dalam huru-hara yang malahan mungkin, pesanan

 

Antara rasa rindu dan malu puisi ini kutuliskan

 

Rindu pada pemilu yang bersih dan indah, pernah

kurasakan

 

Malu pada diri sendiri, tak mampu merubah perilaku

 

Bangsaku.

 

2004, Taufiq Ismail

 

 

Ketika Sebagai Kakek Di Tahun 2040,

Kau Menjawab Pertanyaan Cucumu

 

 

Cucu kau tahu, kau menginap di DPR bulan Mei itu

Bersama beberapa ribu kawanmu

Marah, serak berteriak dan mengepalkan tinju

Bersama-sama membuka sejarah halaman satu

Lalu mengguratkan baris pertama bab yang baru

Seraya mencat spanduk dengan teks yang seru

Terpicu oleh kawan-kawan yang ditembus peluru

Dikejar masuk kampus, terguling di tanah berdebu

Dihajar dusta dan fakta dalam berita selalu

Sampai kini sejak kau lahir dahulu

Inilah pengakuan generasi kami, katamu

Hasil penataan dan penataran yang kaku

Pandangan berbeda tak pernah diaku

Daun-daun hijau dan langit biru, katamu

Daun-daun kuning dan langit kuning, kata orang-orang itu

Kekayaan alam untuk bangsaku, katamu

Kekayaan alam untuk nafsuku, kata orang-orang itu

Karena tak mau nasib rakyat selalu jadi mata dadu

Yang diguncang-guncang genggaman orang-orang itu

Dan nomor yang keluar telah ditentukan lebih dulu

Maka kami bergeraklah kini, katamu

Berjalan kaki, berdiri di atap bis yang melaju

Kemeja basah keringat, ujian semester lupakan dulu

Memasang ikat kepala, mengibar-ngibarkan benderamu

Tanpa ada pimpinan di puncak struktur yang satu

Tanpa dukungan jelas dari yang memegang bedil itu

Sudahlah, ayo kita bergerak saja dulu

Kita percayakan nasib pada Yang Satu Itu.

 

 

 

1998

 

Taufiq Ismail

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kita adalah Pemilik Sah Republik ini

 

Tidak ada pilihan lain. Kita harus

Berjalan terus

Karena berhenti atau mundur

Berarti hancur.

 

Apakah akan kita jual keyakinan kita

Dalam pengabdian tanpa harga

Akan maukah kita duduk satu meja

Dengan para pembunuh tahun lalu

Dalam setiap kalimat yang berakhiran

“Duli Tuanku?”

 

Tidak ada pilihan lain. Kita harus

Berjalan terus

Kita adalah manusia bermata sayu, yang di tepi jalan

Mengacungkan tangat untuk oplet dan bus yang penuh

Kita adalah berpuluh juta yang bertahun hidup sengsara

Dipukul banjir, gunung api, kutuk dan hama

Dan bertanya-tanya inikah yang namanya merdeka

Kita yang tidak punya kepentingan dengan seribu slogan

Dan seribu pengeras suara yang hampa suara

 

Tidak ada pilihan lagi. Kita harus

Berjalan terus

 

1966

diambil dari buku Tirani dan Benteng

(Yayasan Ananda, Jakarta, 1993, halaman 113)

 

Kutahu Kau Kembali Jua Anakku

Oleh :

Taufik Ismail

 

Saudara-kandungku pulang perang, tangannya merah

Kedua pundak landai tiada tulang selangka

Dia tegak goyah, pandangnya pada kami satu-satu

Aku tahu kau kembali jua anakku

 

Tiba-tiba dia roboh di halaman dia kami papah

Ibu pun perlahanmengusapi dahinya tegar

Tanganku amis ibu, tanganku berdarah

Aku tahu kau kembali jua anakku

 

Siang itu dia tergolek ibu, lekah perutnya

Aku tak membidiknya, tapi tanganku bersimbah

Tunduk terbungkuk matanya sangat papa

Kami sama rebah, kupeluk dia di tanah

 

Kauketuk sendiri ambang dadamu anakku

Usapkan jemari sudah berdarah

Simpan laras bedil yang memerah

Kutahu kau kembali jua anakku

 

 

Mimbar Indonesia,

Th XII, No. 50

1958

 

Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia

 

 

I

 

Ketika di Pekalongan, SMA kelas tiga

Ke Wisconsin aku dapat beasiswa

Sembilan belas lima enam itulah tahunnya

Aku gembira jadi anak revolusi Indonesia

Negeriku baru enam tahun terhormat diakui dunia

Terasa hebat merebut merdeka dari Belanda

Sahabatku sekelas, Thomas Stone namanya,

Whitefish Bay kampung asalnya

Kagum dia pada revolusi Indonesia

Dia mengarang tentang pertempuran Surabaya

Jelas Bung Tomo sebagai tokoh utama

Dan kecil-kecilan aku nara-sumbernya

Dadaku busung jadi anak Indonesia

Tom Stone akhirnya masuk West Point Academy

Dan mendapat Ph.D. dari Rice University

Dia sudah pensiun perwira tinggi dari U.S. Army

Dulu dadaku tegap bila aku berdiri

Mengapa sering benar aku merunduk kini

 

II

 

Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak

Hukum tak tegak, doyong berderak-derak

Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, ebuh Tun Razak,

Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza

Berjalan aku di Dam, Champs Élysées dan Mesopotamia

Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata

Dan kubenamkan topi baret di kepala

Malu aku jadi orang Indonesia.

 

III

 

Di negeriku, selingkuh birokrasi peringkatnya di dunia nomor satu,

Di negeriku, sekongkol bisnis dan birokrasi

berterang-terang curang susah dicari tandingan,

Di negeriku anak lelaki anak perempuan, kemenakan, sepupu

dan cucu dimanja kuasa ayah, paman dan kakek

secara hancur-hancuran seujung kuku tak perlu malu,

Di negeriku komisi pembelian alat-alat berat, alat-alat ringan,

senjata, pesawat tempur, kapal selam, kedele, terigu dan

peuyeum dipotong birokrasi

lebih separuh masuk kantung jas safari,

Di kedutaan besar anak presiden, anak menteri, anak jenderal,

anak sekjen dan anak dirjen dilayani seperti presiden,

menteri, jenderal, sekjen dan dirjen sejati,

agar orangtua mereka bersenang hati,

Di negeriku penghitungan suara pemilihan umum

sangat-sangat-sangat-sangat-sangat jelas

penipuan besar-besaran tanpa seujung rambut pun bersalah perasaan,

Di negeriku khotbah, surat kabar, majalah, buku dan

sandiwara yang opininya bersilang tak habis

dan tak utus dilarang-larang,

Di negeriku dibakar pasar pedagang jelata

supaya berdiri pusat belanja modal raksasa,

Di negeriku Udin dan Marsinah jadi syahid dan syahidah,

ciumlah harum aroma mereka punya jenazah,

sekarang saja sementara mereka kalah,

kelak perencana dan pembunuh itu di dasar neraka

oleh satpam akhirat akan diinjak dan dilunyah lumat-lumat,

Di negeriku keputusan pengadilan secara agak rahasia

dan tidak rahasia dapat ditawar dalam bentuk jual-beli,

kabarnya dengan sepotong SK

suatu hari akan masuk Bursa Efek Jakarta secara resmi,

Di negeriku rasa aman tak ada karena dua puluh pungutan,

lima belas ini-itu tekanan dan sepuluh macam ancaman,

Di negeriku telepon banyak disadap, mata-mata kelebihan kerja,

fotokopi gosip dan fitnah bertebar disebar-sebar,

Di negeriku sepakbola sudah naik tingkat

jadi pertunjukan teror penonton antarkota

cuma karena sebagian sangat kecil bangsa kita

tak pernah bersedia menerima skor pertandingan

yang disetujui bersama,

 

Di negeriku rupanya sudah diputuskan

kita tak terlibat Piala Dunia demi keamanan antarbangsa,

lagi pula Piala Dunia itu cuma urusan negara-negara kecil

karena Cina, India, Rusia dan kita tak turut serta,

sehingga cukuplah Indonesia jadi penonton lewat satelit saja,

Di negeriku ada pembunuhan, penculikan

dan penyiksaan rakyat terang-terangan di Aceh,

Tanjung Priuk, Lampung, Haur Koneng,

Nipah, Santa Cruz dan Irian,

ada pula pembantahan terang-terangan

yang merupakan dusta terang-terangan

di bawah cahaya surya terang-terangan,

dan matahari tidak pernah dipanggil ke pengadilan sebagai

saksi terang-terangan,

Di negeriku budi pekerti mulia di dalam kitab masih ada,

tapi dalam kehidupan sehari-hari bagai jarum hilang

menyelam di tumpukan jerami selepas menuai padi.

 

IV

 

Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak

Hukum tak tegak, doyong berderak-derak

Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, Lebuh Tun Razak,

Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza

Berjalan aku di Dam, Champs Élysées dan Mesopotamia

Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata

Dan kubenamkan topi baret di kepala

Malu aku jadi orang Indonesia.

 

1998

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Memang selalu demikian, Hadi

 

Setiap perjuangan selalu melahirkan

Sejumlah pengkhianat dan para penjilat

Jangan kau gusar, Hadi

 

Setiap perjuangan selalu menghadapkan kita

Pada kaum yang bimbang menghadapi gelombang

Jangan kau kecewa, Hadi

 

Setiap perjuangan yang akan menang

Selalu mendatangkan pahlawan jadi-jadian

Dan para jagoan kesiangan

 

Memang demikianlah halnya, Hadi

 

1966

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Mencari Sebuah Mesjid

 

Oleh :

Taufiq Ismail

 

Aku diberitahu tentang sebuah masjid

yang tiang-tiangnya pepohonan di hutan

fondasinya batu karang dan pualam pilihan

atapnya menjulang tempat tersangkutnya awan

dan kubahnya tembus pandang, berkilauan

digosok topan kutub utara dan selatan

 

Aku rindu dan mengembara mencarinya

 

Aku diberitahu tentang sepenuh dindingnya yang transparan

dihiasi dengan ukiran kaligrafi Quran

dengan warna platina dan keemasan

berbentuk daun-daunan sangat beraturan

serta sarang lebah demikian geometriknya

ranting dan tunas jalin berjalin

bergaris-garis gambar putaran angin

 

Aku rindu dan mengembara mencarinya

 

Aku diberitahu tentang masjid yang menara-menaranya

menyentuh lapisan ozon

dan menyeru azan tak habis-habisnya

membuat lingkaran mengikat pinggang dunia

kemudian nadanya yang lepas-lepas

disulam malaikat menjadi renda-renda benang emas

yang memperindah ratusan juta sajadah

di setiap rumah tempatnya singgah

 

Aku rindu dan mengembara mencarinya

 

Aku diberitahu tentang sebuah masjid yang letaknya di mana

bila waktu azan lohor engkau masuk ke dalamnya

engkau berjalan sampai waktu asar

tak bisa kau capai saf pertama

sehingga bila engkau tak mau kehilangan waktu

bershalatlah di mana saja

di lantai masjid ini, yang luas luar biasa

 

Aku rindu dan mengembara mencarinya

 

Aku diberitahu tentang ruangan di sisi mihrabnya

yaitu sebuah perpustakaan tak terkata besarnya

dan orang-orang dengan tenang membaca di dalamnya

di bawah gantungan lampu-lampu kristal terbuat dari berlian

yang menyimpan cahaya matahari

kau lihat bermilyar huruf dan kata masuk beraturan

ke susunan syaraf pusat manusia dan jadi ilmu yang berguna

di sebuah pustaka yang bukunya berjuta-juta

terletak di sebelah menyebelah mihrab masjid kita

 

Aku rindu dan mengembara mencarinya

 

Aku diberitahu tentang masjid yang beranda dan ruang dalamnya

tempat orang-orang bersila bersama

dan bermusyawarah tentang dunia dengan hati terbuka

dan pendapat bisa berlainan namun tanpa pertikaian

dan kalau pun ada pertikaian bisalah itu diuraikan

dalam simpul persaudaraan yang sejati

dalam hangat sajadah yang itu juga

terbentang di sebuah masjid yang mana

 

Tumpas aku dalam rindu

Mengembara mencarinya

Di manakah dia gerangan letaknya ?

 

Pada suatu hari aku mengikuti matahari

ketika di puncak tergelincir dia sempat

lewat seperempat kuadran turun ke barat

dan terdengar merdunya azan di pegunungan

dan aku pun melayangkan pandangan

mencari masjid itu ke kiri dan ke kanan

ketika seorang tak kukenal membawa sebuah gulungan

dia berkata :

 

“Inilah dia masjid yang dalam pencarian tuan”

 

dia menunjuk ke tanah ladang itu

dan di atas lahan pertanian dia bentangkan

secarik tikar pandan

kemudian dituntunnya aku ke sebuah pancuran

airnya bening dan dingin mengalir beraturan

tanpa kata dia berwudhu duluan

aku pun di bawah air itu menampungkan tangan

ketika kuusap mukaku, kali ketiga secara perlahan

hangat air terasa, bukan dingin kiranya

demikianlah air pancuran

bercampur dengan air mataku

yang bercucuran.

 

 

 

Jeddah, 30 Januari 1988

Taufiq Ismail

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Nasehat-Nasehat Kecil Orang Tua

Pada Anaknya Berangkat Dewasa

 

Jika adalah yang harus kaulakukan

Ialah menyampaikan kebenaran

Jika adalah yang tidak bisa dijual-belikan

Ialah ang bernama keyakinan

Jika adalah yang harus kau tumbangkan

Ialah segala pohon-pohon kezaliman

Jika adalah orang yang harus kauagungkan

Ialah hanya Rasul Tuhan

Jika adalah kesempatan memilih mati

Ialah syahid di jalan Ilahi

 

 

April, 1965

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Presiden Boleh Pergi

Presiden Boleh Datang

 

 

Sebuah orde tenggelam

sebuah orde timbul

tapi selalu saja ada suatu lapisan masyarakat di atas gelombang itu

selamat

Mereka tidak mengalami guncangan yang berat

Yang selalu terapung di atas gelombang

Seseorang dianggap tak bersalah sampai dia dibuktikan hukum bersalah

Di negeri kami ungkapan ini begitu indah

Kini simaklah sebuah kisah

Seorang pegawai tinggi gajinya satu setengah juta rupiah

Di garasinya ada Volvo hitam, BMW abu-abu,

Honda metalik, dan Mercedes merah

Anaknya sekolah di Leiden, Montpellier dan Savana

Rumahnya bertebaran di Menteng, Kebayoran dan macam-macam indah

Setiap semester ganjil istri terangnya belanja di Hongkong dan Singapura

 

Setiap semester genap istri gelapnya liburan di Eropa dan Afrika

Anak-anaknya ….

Anak-anaknya pegang dua pabrik, tiga apotik dan empat biro jasa

Selain sepupu dan kemenakannya buka lima toko onderdil,

lima biro iklan, dan empat pusat belanja.

Ketika rupiah anjlok terperosok, kepeleset macet dan hancur jadi bubur,

dia, hah!

dia ketawa terbahak-bahak karena depositonya dolar Amerika semua

Sesudah matahari dua kali tenggelam di langit Barat,

jumlah rupiahnya melesat sepuluh kali lipat

Krisis makin menjadi-jadi

Di mana-mana orang antri

Maka 100 kotak kantong plastik hitam dia bagi-bagi

Isinya masing-masing:

Lima genggam beras, empat cangkir minyak goreng,

dan tiga bungkus mie cepat jadi.

Peristiwa murah hati ini diliput dua menit di kotak televisi

dan masuk koran halaman lima pagi sekali

Gelombang mau datang,

Datang lagi gelombang setiap bah air pasang

Dia senantiasa terapung di atas banjir bandang

Banyak orang tenggelam toh mampu timbul lagi

lalu ia berkata sambil berdiri:

Yaaa… masing-masing kita kan punya sejeki sendiri-sendiri

Seperti bandul jam bergoyang-goyang kekayaan misterius mau diperiksa

Kekayaan… tidak jadi diperiksa

Kakayaan… mau diperiksa

Kekayaan… tidak jadi diperiksa

Kekayaan… mau diperiksa

Kekayaan… tidak jadi diperiksa

Kekayaan… harus diperiksa

Kekayaan… tidak jadi diperiksa

(Dibacakan di beberapa pentas baca puisi di Jakarta)

 

 

Rindu Pada Stelan Jas Putih dan Pantalon Putih Bung Hatta

 

(Dibacakan oleh Taufiq Ismail pada: Acara Deklarasi Gerakan Nasional

Pemberantasan Korupsi, Sumatera Barat, di Asrama Haji, Tabing, Padang,

tgl. 15 Ramadhan 1424 H/10 Nopember 2003 M)

 

 

I.

Di awal abad 21, pada suatu Subuh pagi aku berjalan kaki di Bukittinggi,

Hampir tak ada kabut tercantum di leher Singgalang dan Merapi, yang belum

dilangkahi matahari,

 

Lalu lintas kota kecil ini dapat dikatakan masih begitu sunyi,

 

Menurun aku di Janjang Ampek Puluah, melangkah ke Aue Tajungkang,

berhenti aku di depan rumah kelahiran Bung Hatta,

 

Di rumah beratap seng nomor 37 itulah, di awal abad 20, lahir seorang

bayi laki-laki yang kelak akan menuliskan alphabet cita-cita bangsa di

langit pemikirannya dan merancang peta Negara di atas prahara sejarah

manusianya,

 

Dia tak suka berhutang. Sahabat karibnya, Bung Karno, kepada

gergasi-gergasi dunia itu bahkan berteriak, “Masuklah kalian ke neraka

dengan uang yang kalian samarkan dengan nama bantuan, yang pada

hakekatnya hutang itu”.

Suara lantang 39 tahun yang silam itu terapung di Ngarai Sianok, hanyut

di Kali Brantas, menyelam di Laut Banda, melintas di Selat Makassar,

hilang di arus Sungai Mahakam, kemudian tersangkut di tenggorokan 200

juta manusia,

 

Dua ratus juta manusia itu, terbelenggu rantai hutang di tangan dan kaki,

di abad kini. Petinggi negeri di lobi kantor Pusat Pegadaian Dunia duduk

antri, membawa kaleng kosong bekas cat minta sekedarnya diisi. Setiap

mereka pulang, hutang menggelombang, setiap bayi lahir langsung dua puluh

juta rupiah berkalung hutang, baru akan lunas dua generasi mendatang.

 

II.

Jalan kaki pagi-pagi di Bukittinggi, aku merenung di depan rumah beratap

seng di Aue Tajungkang nomor 37 ini, yang di awal abad 20 lalu tempat

lahir seorang bayi laki-laki

 

Aku mengenang negarawan jenius ini dengan rasa penuh hormat karena

rangkaian panjang mutiara sifat: tepat waktu, tunai janji, ringkas

bicara, lurus jujur, hemat serta bersahaja,

 

Angku Hatta, adakah garam sifat-sifat ini masuk ke dalam sup kehidupanku?

Kucatat dalam puisiku, Angku lebih suka garam dan tak gemar gincu.

Tujuh windu sudah berlalu, aku menyusun sebuah senarai perasaan rindu,

 

Rindu pada sejumlah sifat dan nilai, yang kini kita rasakan hancur

bercerai-berai,

 

Kesatuan sebagai bangsa, rasa bersama sebagai manusia Indonesia, ikatan

sejarah dengan pengalaman derita dan suka, inilah kerinduan yang luput

dari sekitar kita,

 

Kita rindu pada penampakan dan isi jiwa bersahaja, lurs yang tabung,

waktu yang tepat berdentang, janji yang tunai, kalimat yang ringkas

padat, tata hidup yang hemat,

 

Tiba-tiba kita rindu pada Bung Hatta, pada stelan jas putih dan pantaloon

putihnya, symbol perlawanan pada disain hedonisme dunia, tidak sudi

berhutang, kesederhanaan yang berkilau gemilang,

 

Kesederhanaan. Ternyata aku tak bisa hidup bersahaja. Terperangkap dalam

krangkeng baja materialisme, boros dan jauh dari hemat, agenda serba

bendaku ditentukan oleh merek 1000 produk impor, iklan televise dan gaya

hidup imitasi,

 

Bicara ringkas. Susah benar aku melisankan fikiran secara padat. Agaknya

genetika Minang dalam rangkaian kromosomku mendiktekan sifat bicaraku

yang berpanjang-panjang. Angk Hatta, bagaimana Angku dapat bicara ringkas

dan padat? Teratur dan apik? Aku mengintip Angku pada suatu makan siang

di Jalan Diponegoro, yang begitu tertib dan resik,

 

Tepat waktu. Bung Hatta adalah tepat waktu untuk sebuah bangsa yang

selalu terlambat. Dari seribu rapat, sembilan ratus biasanya telat.

Kegiatanku yang tepat waktu satu-satunya ialah ketika berbuka puasa.

 

Kelurusan dan kejujuran. Pertahanan apa yang mesti dibangun di dalam

sebuah pribadi supaya orang bisa selalu jujur? Jujur dalam masalah

rezeki, jujur kepada isteri, jujur kepada suami, jujur kepada diri

sendiri, jujur kepada orang banyak, yang bernama rakyat? Rakyat yang di

tipu terus-menerus itu.

 

Ketika kita rindu bersangatan kepada sepasang jas putih dan pantaloon

putih itu, kita mohonkan kepada Tuhan, semoga nilai-nilai dan sifat-sifat

luhur yang telah hancur berantakan, kepada kita utuh dikembalikan.

 

III.

 

Jalan kaki pagi-pagi di Bukittinggi, di depan rumah beratap seng di Aue

Tajungkang nomor 37 ini aku menengok ke kanan dan ke kiri, kemudian aku

masuk ke dalamnya, dan di ruang tamu menatap potret dinding aku berdiri,

 

Tampaklah Bung Hatta di antara rakyat banyak dalam gambar itu. Tiba-tiba

Bung Hatta keluar dari gambar sepia itu.

 

Kemudian Bung Hatta berkata: “Ceritakan Indonesia kini menurut kamu”

 

Aku tergagap bicara. ^Angku, mangadu ambo kini. Angku, saya mengadu

kini. Krisis berlapis-lapis bagaikan tak habis-habis. Krisis ekonomi,

politik, penegakan hokum, pendidikan, pengangguran, kemiskinan, keamanan,

kekerasan, pertumpahan darah, pemecah-belahan, dan di atas semua itu,

krisis akhlak bangsa,

 

“Otoritarianisme panjang menyuburkan perilaku materialistic, tamak,

serakah, tipu-menipu, konspiratif, mengutamakan keluarga dekat,

memenangkan golongan sendiri, dan tingkah laku feodalistik,

 

Krisis nilai luhur merubah potret wajah bangsa menjadi anarkis,

bringas, ganas, tak bersedia kalah, tak segan memfitnah, memaksakan

kehendak, pendendam, perusak, pembakar dan pembunuh. Kekerasan, api,

batu, peluru, puing mayat, asap dan bom sampai ke seluruh muka bumi,

 

Tetapi tentang bom itu, nanti dulu. Sepuluh dua puluh tahun lagi,

lihat, akan terungkap apa sebenarnya sandiwara besar skenario dunia yang

dipaksakan hari ini. Mentang-mentang.

 

Aku menarik nafas. Bung Hatta diam. Tak ada senyum di wajahnya

Angku Hatta. Harga apa saja di Indonesia naik semua, kecuali satu.

Harga nyawa. Nyawa murah dan luar biasa jatuh nilainya. Di setiap demo

orang mati. Tahanan polisi gampang mati. Pencuri motor dibakar mati.

Anak-anak sekolah belasan tahun dalam tawuran, tanpa rasa salah dengan

ringan membunuh temannya lain sekolah. Mahasiswa senior yang garang

menggasak, menggampar, menyiksa juniornya sampai mati. Tahun depan

pembunuhan di kampus lain di ulang lagi. Dendam dipelihara dan

diturunkan”

 

Sesak nafasku. Bung Hatta diam. Matanya merenung jauh.

 

Alkohol, nikotin, judi, madat, putau, ganja dan sabu-sabu telah meruyak

dan mencengkeram negeri kita, mudah dibeli di tepi jalan, di sekolah, di

mana-mana. Indonesia telah menjadi sorga pornografi paling murah di

dunia. Dengan uang sepuluh ribu anak SLTP dengan mudah bisa membeli VCD

coitus lelaki-perempuan kulit putih 60 menit, 6 posisi dan 6 warna.

Anak-anak SD membaca komik cabul dari Jepang. Di televisi peselingkuhan

dianjurkan dan diajarkan.”

 

Gelombang hidup permisif, gaya serba boleh ini melanda penulis-penulis pula.

 

Penulis-penulis perempuan, muda usia, berlomba mencabul-cabulkan karya,

asyik menggarap wilayah selangkang dan sekitarnya dan kompetisi Gerakan

Syahwat Merdeka. Betapa tekun mereka melakukan rekonstruksi dan

dekonstruksi daftar instruksi posisi syahwat selangkangan abad 21 yang

posmo perineum ini.

 

Dari uap alkohol, asap nikotin dan narkoba, dari bau persetubuhan liar

20 juta keeping VCD biru, dari halaman-halaman komik dan buku cabul

menyebar hawa lendir yang mirip aroma bangkai anak tikus terlantar tiga

hari di selokan pasar desa ke seluruh negeri.

 

Aku melihat orang-orang menutup hidung dan jijik karenanya. Jijik. Malu

aku memikirkannya”

 

Jan aku tenan isin sakpore, sakpore, isin buanget dadi wong Indonesia,

Lek asane dadi nak Indonesia,

 

Masiripka mancaji to Indonesia,

 

Jelema Indonesia? Eraeun urang, eraeun,

 

Malu ambo, sabana malu jadi urang Indonesia,!(*)

 

Malu aku jadi orang Indonesia.

(*) Bahasa Jawa, Bali, Bugis, Sunda dan Minangkabau.

 

Aku berhenti bicara. Bung Hatta masih tetap diam. Matanya merenung sangat

jauh. Tiba-tiba bayangan wajahnya menghilang.

 

 

IV

Indonesia tersaruk-saruk.

Terpincang-pincang dan sempoyongan,

Dicambuki krisis demi krisis seperti tak habis-habis.

Indonesia kini sedang menangis.

Dari status Negeri Cobaan,

Dia turun derajat menjadi Negeri Azab,

Dan kini sedang bergerak merosot kearah Negeri Kutukan.

Indonesia tak habis-habis menangis.

 

Kusut, masai,

Nestapa, duka,

Pengap dan gelap.

Dari dalam sumur berlumpur ini,

Dari dasar tubir yang menyesakkan nafas ini

Kami menengadah ke atas,

Masih melihat sepotong langit

Dan mengharapkan cahaya.

Kami tetap berikhtiar,

Terus bekerja keras

Seraya menggumamkan doa.

 

Tuhan,

Jangan biarkan negeri kami

Yang kini sudah menjadi Negeri Azab,

Bergerak merosot kea rah Negeri Kutukan.

 

 

 

Tuhan,

Mohon,

Jangan ditolak

 

Do’a kami.

2003

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Salemba

 

 

Alma Mater, janganlah bersedih

Bila arakan ini bergerak pelahan

Menuju pemakaman

Siang ini

 

Anakmu yang berani

Telah tersungkur ke bumi

Ketika melawan tirani

 

 

 

1966

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sebuah Jaket Berlumur Darah

 

Sebuah jaket berlumur darah

Kami semua telah menatapmu

Telah berbagi duka yang agung

Dalam kepedihan berahun-tahun

 

Sebuah sungai membatasi kita

Di bawah terik matahari Jakarta

Antara kebebasan dan penindasan

Berlapis senjata dan sangkur baja

 

Akan mundurkah kita sekarang

Seraya mengucapkan ‘Selamat tinggal perjuangan’

Berikrar setia kepada tirani

Dan mengenakan baju kebesaran sang pelayan?

 

Spanduk kumal itu, ya spanduk itu

Kami semua telah menatapmu

Dan di atas bangunan-bangunan

Menunduk bendera setengah tiang

 

Pesan itu telah sampai kemana-mana

Melalui kendaraan yang melintas

Abang-abang beca, kuli-kuli pelabuhan

teriakan-teriakan di atas bis kota, pawai-pawai perkasa

Prosesi jenazah ke pemakaman

Mereka berkata

Semuanya berkata

Lanjutkan Perjuangan

 

1966

 

Seratus Juta

Oleh :

Taufik Ismail

 

 

Umat miskin dan penganggur berdiri hari ini

Seratus juta banyaknya

Di tengah mereka tak tahu akan berbuat apa

Kini kutundukkan kepala, karena

Ada sesuatu besar luar biasa

Hilang terasa dari rongga dada

Saudaraku yang sirna nafkah, tanpa kerja

berdiri hari ini

Seratus juta banyaknya

Kita mesti berbuat sesuatu, betapun sukarnya.

 

1998

 

 

 

Republika,

16 Agustus 1998

Sajak-sajak Reformasi Indonesia

Taufik Ismail

 

 

 

 

Syair Empat Kartu Di Tangan

 

Ini bicara blak-blakan saja, bang

Buka kartu tampak tampang

Sehingga semua jelas membayang

Monoloyalitas kami

sebenarnya pada uang

Sudahlah, ka-bukaan saja kita bicara

Koyak tampak terkubak semua

Sehingga buat apa basi dan basa

Sila kami

Keuangan Yang Maha Esa

Jangan sungkan buat apa yah-payah

Analisa psikis toh cuma kwasi ilmiah

Tak usahlah sah-susah

Ideologiku begitu jelas

ideologi rupiah

Begini kawan, bila dadaku jalani pembedahan

Setiap jeroan berjajar kelihatan

Sehingga jelas sebagai keseluruhan

Asas tunggalku

memang keserakahan.

 

 

1998

 

 

 

 

 

 

Takut 66, Takut 98

 

 

Mahasiswa takut pada dosen

Dosen takut pada dekan

Dekan takut pada rektor

Rektor takut pada menteri

Menteri takut pada presiden

Presiden takut pada mahasiswa

takut ’66, takut ’98 – 1998

 

(1998)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tentang Sersan Nurcholis

Oleh :

Taufiq Ismail

 

Seorang Sersan

Kakinya hilang

Sepuluh tahun yang lalu

 

Setiap siang

Terdengan siulnya

Di bengkel arloji

 

Sekali datang

Teman-temannya

Sudah orang resmi

 

Dengan senyum ditolaknya

Kartu anggota

Bekas pejuang

 

Sersan Nurcholis

Kakinya hilang

Di jaman Revolusi

 

Setiap siang

Terdengan siulnya

Di bengkel aroloji

 

(1958)

 

 

Tuhan Sembilan Senti

 

Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok, tapi tempat siksa

tak tertahankan bagi orang yang tak merokok,

 

Di sawah petani merokok, di pabrik pekerja merokok, di kantor pegawai

merokok, di kabinet menteri merokok, di reses parlemen anggota DPR

merokok, di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok,

hansip-bintara-perwira nongkrong merokok, di perkebunan pemetik buah kopi

merokok, di perahu nelayan penjaring ikan merokok, di pabrik petasan

pemilik modalnya merokok, di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok,

 

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im sangat ramah bagi perokok,

tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,

 

Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok, di ruang kepala

sekolah ada guru merokok, di kampus mahasiswa merokok, di ruang kuliah

dosen merokok, di rapat POMG orang tua murid merokok, di perpustakaan

kecamatan ada siswa bertanya apakah ada buku tuntunan cara merokok,

 

Di angkot Kijang penumpang merokok, di bis kota sumpek yang berdiri yang

duduk orang bertanding merokok, di loket penjualan karcis orang merokok,

di kereta api penuh sesak orang festival merokok, di kapal penyeberangan

antar pulau penumpang merokok, di andong Yogya kusirnya merokok, sampai

kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok,

 

Negeri kita ini sungguh nirwana kayangan para dewa-dewa bagi perokok, tapi

tempat cobaan sangat berat bagi orang yang tak merokok,

 

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita,

 

Di pasar orang merokok, di warung Tegal pengunjung merokok, di restoran di

toko buku orang merokok, di kafe di diskotik para pengunjung merokok,

 

Bercakap-cakap kita jarak setengah meter tak tertahankan abab rokok,

bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun menderita di kamar tidur

ketika melayani para suami yang bau mulut dan hidungnya mirip asbak rokok,

 

Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul saling

menularkan  HIV-AIDS sesamanya, tapi kita tidak ketularan penyakitnya.

Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya mengepulkan asap rokok di

kantor atau di stopan bus, kita ketularan penyakitnya. Nikotin lebih jahat

penularannya ketimbang  HIV-AIDS,

 

Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di

dunia, dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu,

bisa ketularan kena,

 

Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok, di apotik yang antri obat

merokok, di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok, di ruang tunggu

dokter pasien merokok, dan ada juga dokter-dokter merokok,

 

Istirahat main tenis orang merokok, di pinggir lapangan voli orang

merokok, menyandang raket badminton orang merokok, pemain bola PSSI

sembunyi-sembunyi merokok, panitia pertandingan balap mobil, pertandingan

bulutangkis, turnamen sepakbola mengemis-ngemis mencium kaki sponsor

perusahaan rokok,

 

Di kamar kecil 12 meter kubik, sambil ‘ek-‘ek orang goblok merokok, di

dalam lift gedung 15 tingkat dengan tak acuh orang goblok merokok, di

ruang sidang ber-AC penuh, dengan cueknya, pakai dasi, orang-orang goblok

merokok,

 

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im sangat ramah bagi orang

perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,

 

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita,

 

Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh, duduk sejumlah ulama terhormat

merujuk kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa. Mereka ulama ahli

hisap. Haasaba, yuhaasibu, hisaaban. Bukan ahli hisab ilmu falak, tapi

ahli hisap rokok. Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka terselip

berhala-berhala kecil, sembilan senti panjangnya, putih warnanya, ke

mana-mana dibawa dengan setia, satu kantong dengan kalung tasbih 99

butirnya,

 

Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang, tampak kebanyakan mereka

memegang rokok dengan tangan kanan, cuma sedikit yang memegang dengan

tangan kiri. Inikah gerangan pertanda yang terbanyak kelompok ashabul

yamiin dan yang sedikit golongan ashabus syimaal?

 

Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu. Mamnu’ut

tadkhiin, ya ustadz. Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz. Kyai, ini ruangan

ber-AC penuh. Haadzihi al ghurfati malii’atun bi mukayyafi al hawwa’i.

Kalau tak tahan, di luar itu sajalah merokok. Laa taqtuluu anfusakum.

 

Min fadhlik, ya ustadz. 25 penyakit ada dalam khamr. Khamr diharamkan. 15

penyakit ada dalam daging khinzir (babi). Daging khinzir diharamkan. 4000

zat kimia beracun ada pada sebatang rokok. Patutnya rokok diapakan?

 

Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz. Wa yuharrimu ‘alayhimul khabaaith.

Mohon ini direnungkan tenang-tenang, karena pada zaman Rasulullah dahulu,

sudah ada alkohol, sudah ada babi, tapi belum ada rokok.

 

Jadi ini PR untuk para ulama. Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok,

lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan, jangan,

 

Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini. Banyak yang

diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu, yaitu

ujung rokok mereka. Kini mereka berfikir. Biarkan mereka berfikir. Asap

rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap, dan ada yang mulai

terbatuk-batuk,

 

Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini, sejak tadi pagi sudah 120

orang di Indonesia mati karena penyakit rokok. Korban penyakit rokok lebih

dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas, lebih gawat ketimbang

bencana banjir, gempa bumi dan longsor, cuma setingkat di bawah korban

narkoba,

 

Pada saat sajak ini dibacakan, berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa

di negara kita, jutaan jumlahnya, bersembunyi di dalam kantong baju dan

celana, dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna, diiklankan dengan

indah dan cerdasnya,

 

Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri, tidak perlu ruku’ dan

sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini, karena orang akan khusyuk dan

fana dalam nikmat lewat upacara menyalakan api dan sesajen asap

tuhan-tuhan ini,

 

Rabbana, beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.

 

 

****

Taufiq Ismail

 

 

 

 

 

 

 

 

Yang Selalu Terapung

Di Atas Gelombang

 

 

Seseorang dianggap tak bersalah,

sampai dia dibuktikan hukum bersalah.

Di negeri kami, ungkapan ini terdengar begitu indah.

Kini simaklah sebuah kisah,

 

Seorang pegawai tinggi,

gajinya sebulan satu setengah juta rupiah,

Di garasinya ada Honda metalik,Volvo hitam,

BMW abu-abu, Porsche biru dan Mercedes merah.

Anaknya sekolah di Leiden, Montpelier dan Savannah.

Rumahnya bertebaran di Menteng, Kebayoran dan

Macam Macam Indah,

Setiap semester ganjil,

isteri terangnya belanja di Hongkong dan Singapura.

Setiap semester genap,

isteri gelap liburan di Eropa dan Afrika,

 

Anak-anaknya pegang dua pabrik,

tiga apotik dan empat biro jasa.

Saudara sepupu dan kemenakannya

punya lima toko onderdil,

enam biro iklan dan tujuh pusat belanja,

Ketika rupiah anjlok terperosok,

kepleset macet dan hancur jadi bubur,

dia ketawa terbahak- bahak

karena depositonya dalam dolar Amerika semua.

Sesudah matahari dua kali tenggelam di langit barat,

jumlah rupiahnya melesat sepuluh kali lipat,

 

Krisis makin menjadi-jadi, di mana-mana orang antri,

maka seratus kantong plastik hitam dia bagi-bagi.

Isinya masing-masing lima genggam beras,

empat cangkir minyak goreng dan tiga bungkus mi cepat-jadi.

Peristiwa murah hati ini diliput dua menit di kotak televisi,

dan masuk berita koran Jakarta halaman lima pagi-pagi sekali,

 

Gelombang mau datang, datanglah gelombang,

setiap air bah pasang dia senantiasa

terapung di atas banjir bandang.

Banyak orang tenggelam tak mampu timbul lagi,

lalu dia berkata begini,

“Yah, masing-masing kita rejekinya kan sendiri-sendiri,”

 

Seperti bandul jam tua yang bergoyang kau lihatlah:

kekayaan misterius mau diperiksa,

kekayaan tidak jadi diperiksa,

kekayaan mau diperiksa,

kekayaan tidak diperiksa,

kekayaan harus diperiksa,

kekayaan tidak jadi diperiksa.

Bandul jam tua Westminster,

tahun empat puluh satu diproduksi,

capek bergoyang begini, sampai dia berhenti sendiri,

 

 

Kemudian ide baru datang lagi,

isi formulir harta benda sendiri,

harus terus terang tapi,

dikirimkan pagi-pagi tertutup rapi,

karena ini soal sangat pribadi,

Selepas itu suasana hening sepi lagi,

cuma ada bunyi burung perkutut sekali-sekali,

Seseorang dianggap tak bersalah,

sampai dia dibuktikan hukum bersalah.

 

Di negeri kami, ungkapan ini terdengar begitu indah.

Bagaimana membuktikan bersalah,

kalau kulit tak dapat dijamah.

Menyentuh tak bisa dari jauh,

memegang tak dapat dari dekat,

 

Karena ilmu kiat,

orde datang dan orde berangkat,

dia akan tetap saja selamat,

Kini lihat,

di patio rumahnya dengan arsitektur Mediterania,

seraya menghirup teh nasgitel

dia duduk menerima telepon

dari isterinya yang sedang tur di Venezia,

sesudah menilai tiga proposal,

dua diskusi panel dan sebuah rencana rapat kerja,

 

Sementara itu disimaknya lagu favorit My Way,

senandung lama Frank Sinatra

yang kemarin baru meninggal dunia,

ditingkah lagu burung perkutut sepuluh juta

dari sangkar tergantung di atas sana

dan tak habis-habisnya

di layar kaca jinggel bola Piala Dunia,

 

 

Go, go, go, ale ale ale…

 

 

 

1998

 

Posted on Juni 13, 2011, in PUISI. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: