Prefiks se- dan prefiks serapan

Prefiks se‑

Prefiks se- berasal dari kata sa yang berarti satu, tetapi karena tekanan struktur kata, vokal a dilemahkan menjadi e. Bentuk awalan se- tidak mengalami per­ubahan atau variasi bentuk.

 

Arti prefiks se- adalah sebagai berikut:

1)         Menyatakan makna satu. Misalnya: sema­lam.

2)         Menyatakan makna seluruh. Misalnya: sedunia

3)         Menyatakan makna sama.

Misalnya:

sepohon kelapa                                          : sama dengan pohon kelapa

Tinggi rumahnya sepohon kelapa     :Tinggi rumahnya sama dengan

pohon kelapa

4)         Menyatakan makna setelah.

Misalnya:

sesampainya                          : setelah is sampai

 

Prefiks Serapan

Bahasa Indonesia banyak menyerap kata-kata maupun afiks dari bahasa lain,
baik bahasa daerah maupun bahasa asing. Penyerapan tersebut antara lain
untuk memperkaya perbendaharaan kata bahasa Indonesia. Bentuk-bentuk

 

yang polanya sudah terdapat pada bahasa lain kemudian ditiru cara penulis­annya untuk kemudian digunakan dalam membentuk kata-kata dalam bahasa Indonesia. Cara tersebut disebut dengan analogi.

Prefiks serapan tersebut antara lain :

 

1)

pra  :
     

2)

Tuna  :
     

3)

Pramu  :
     

4)

Maha  :
     

5)

Non  :
     

6)

Swa  :

Prefiks ke‑

Prefiks ke- tidak mengalami perubahan bentuk pada saat digabungkan de­ngan bentuk dasar. Hal yang perlu diperhatikan adalah perbedaan antara ke­ sebagai prefiks dan ke- sebagai kata depan.

Prefiks ke- berfungsi membentuk kata benda dan juga kata bilangan. Dalam fungsinya sebagai pembentuk kata benda, penggunaan prefiks ke­ menjadi tidak produktif. Penggunaan prefiks ke- terbatas pada kata-kata ketua, kehendak, dan kekasih, sedangkan sebagai pembentuk kata bilangan, peng­gunaan prefiks ke- masih produktif. Misalnya, keempat, kelima, keenam, kese­puluh.

Arti prefiks ke- dapat dikelompokkan berdasarkan fungsinya dalam mem­bentuk golongan kata. Sebagai pembentuk kata benda, prefiks ke- mengan­du ng makna yang di. Misalnya ketua, kehendak, kekasih.

 

Sebagai pembentuk kata bilangan, prefiks ke- mendukung dua makna, yaitu:

1) Menyatakan kumpulan yang terdiri atas jumlah yang tersebut pada bentuk dasar. Misalnya:

Kedua (orang)                     : kumpulan yang terdiri atas dua orang

Ketiga (orang)                        kumpulan yang terdiri atas tiga orang

Keempat (pasang)         : kumpulan yang terdiri atas empat pasang

 

2) Menyatakan urutan. Misalnya:

la menduduki ranking kedua

Prefiks per‑

Prefiks per- sangat berkaitan erat dengan prefiks ber-. Jika kata kerjanya ber­awalan ber- dan tidak pernah ditemukan dalam bentuk meN-, kata bendanya menjadi per-.

Misalnya: kata dasar tapa

Bentuk ber- dari kata tersebut adalah bertapa (kata kerja) dan tidak pernah ditemukan bentuk meN- dari kata tersebut, yaitu menapa. Oleh karena itu,kata bendanya adalah pertapa. (pada kitab-kitab lama ditemukan kata pertapa dan tidak pernah ditemukan kata petapa).

Sekarang, kelas kata benda dengan per- luluh menjadi pe-. Misalnya:

bertapa ——  pertapa —-  petapa

 

Selain membentuk kata benda, prefiks per- juga berfungsi membentuk kata kerja kausatif. Misalnya, perbesar, perkecil, percantik. Dengan demikian, prefiks per- berfungsi membentuk kata benda dari kata kerja berprefiks ber­ dan juga membentuk kata kerja kausatif.

Prefiks per- hanya memiliki satu makna, yaitu menyatakan kausatif. Kau­satif yang dibentuk dengan per- memiliki variasi sebagai berikut :

1)         Apabila bentuk dasarnya berupa kata sifat, kausatif yang terbentuk ber­arti membuat jadi lebih…. Misalnya, perbesar, pertinggi, percantik.

2)         Apabila bentuk dasarnya berupa kata bilangan, kausatif yang terbentuk berarti membuat jadi…. Misalnya, perdua, pertiga, perempat.

3)         Apabila bentuk dasarnya berupa kata benda, kausatif yang terbentuk berarti membuat jadi atau menganggap sebagai… Misalnya, peristri, per­budak, pertuan.

Prefiks ter- dan di‑

Prefiks terdan di‑

1 ) Bentuk Prefiks ter- dan di‑

Prefiks ter- mempunyai alomorf ter- dan tel-. Bentuk tel- hanya terjadi pada kata-kata tertentu seperti telanjur dan telentang, sedangkan pre­fiks di- tidak pernah mengalami perubahan bentuk ketika dilekatkan de­ngan bentuk lain.

 

2) Fungsi Prefiks ter- dan di‑

Kedua prefiks tersebut (ter- dan di-) sama-sama berfungsi membentuk kata kerja pasif. Contoh: (1) Ani ditangkap polisi. Hal yang sama juga terjadi pada kata kerja berawalan ter-. Misalnya, Buku itu terbawa Made kemarin. Pada kalimat tersebut, subjek kalimat (buku) dikenai tindakan karena buku terbawa oleh Made.

 

3) Arti Prefiks ter- dan di‑

Prefiks ter- memiliki arti yang lebih bervariasi dibandingkan dengan pre­fiks di-. Prefiks di- mempunyai arti menyatakan suatu tindakan yang pasif, sedangkan arti atau makna dari prefiks ter- adalah sebagai berikut:

a) Menyatakan aspek perfektif. Misalnya pada kalimat berikut:

Kerajaan Mataram yang sudah sangat susut itu, kini terbagi menjadi empat buah kerajaan, yaitu Yogyakarta, Pakualaman, Surakarta, dan Mangkunegaran.

Kata terbagi dalam kalimat tersebut berarti sudah dibagi atau de­ngan kata lain menyatakan aspek perfektif. Demikian pula kata-kata terjepit, tertutup, tersimpan, tertanam, dan terikat.

 

b)         Menyatakan ketidaksengajaan. Misalnya, terpijak: tidak sengaja dipi­jak.

c)         Menyatakan ketiba-tibaan. Misalnya, terbangun, terperosok, teringat, tertidur, terduduk.

 

 

d)         Menyatakan suatu kemungkinan. Prefiks ter- yang menyatakan mak­na tersebut, pada umumnya didahului oleh kata negatif tidak atau tak.

Misalnya:

tidak ternilai                 : tidak dapat dinilai

tidak terselami             : tidak dapat diselami

tidak terbaca                : tidak dapat dibaca

tak tersentuh               : tidak dapat disentuh

tak terduga                   : tidak dapat diduga

 

(e) Menyatakan makna paling. Makna tersebut terdapat pada prefiks ter- yang memiliki bentuk dasar berupa kata sifat.

Misalnya:

tertinggi                         : paling tinggi

terluas                   : paling luas

terpandai                : paling pandai

Prefiks ber‑

1) Bentuk

Prefiks ber- juga dapat mengalami perubahan bentuk.Terdapat tiga ben­tukyang dapat terjadi jika prefiks ber- dilekatkan pada bentuk dasar.Ketiga bentuk tersebut adalah be-, ber-, dan bel-. Kaidah perubahan bentuk pre­fiks ber- adalah sebagai berikut.

a) Prefiks ber- berubah menjadi be- jika ditempatkan pada bentuk da­sar yang bermula dengan fonem /r/ atau bentuk dasar yang suku pertamanya berakhir dengan /er/

Misalnya:

ber- + ranting                 beranting

ber- + kerja                    bekerja

b)      Prefiks ber- berubah menjadi ber- (tidak mengalami perubahan) jika ditempatkan pada bentuk dasar yang suku pertamanya tidak ber­mula dengan fonem /n/ atau suku pertamanya tidak mengadung  /er/.

Misalnya:

ber- + main                            bermain

c)       Prefiks ber- berubah menjadi bel- jika dilekatkan pada bentuk dasar ajar.

ber- + ajar                            belajar

 

2)  Fungsi

Fungsi prefiks ber- adalah membentuk kata-kata yang termasuk ke da­lam golongan kata kerja. Contohnya, bermain, bersiul, berjalan, berguru, belajar.

 

3) Arti

Terdapat beberapa arti yang dapat didukung oleh prefiks ber-. Meskipun demikian, makna prefiks ber- setelah bersentuhan dengan bentuk dasar dapat dikelompokkan seperti berikut:

a)      Prefiks ber- mengandung arti mempunyai atau memiliki. Contoh­nya: bernama

b)      Mempergunakan atau memakai sesuatu yang disebut dalam kata dasar. Contohnya: berkereta.

c)       Mengerjakan sesuatu atau mengadakan sesuatu. Contohnya: bersa­wah.

d)      Memperoleh atau menghasilkan sesuatu. Contohnya: bertelur.

e)      Berada pada keadaan sebagai yang disebut dalam kata dasar. Con­toh nya: bermalas.

g)      Jika kata dasarnya adalah kata bilangan atau kata benda yang me­nyatakan ukuran, ber- mengandung arti himpunan. Contohnya: bersatu

h)      Menyatakan perbuatan yang tidak transitif. Contohnya: berjalan.

i)          Menyatakan perbuatan mengenai diri sendiri atau refleksif. Contoh­nya: berhias.

j)          Menyatakan perbuatan berbalasan atau resiprok. Contohnya: ber­kelahi.

k)        Jika dirangkaikan di depan sebuah kata yang berobjek, ber- me­ngandung arti mempunyai pekerjaan tersebut. Contohnya: berkedai nasi.

Arti Prefiks peN‑

Prefiks peN- memiliki hubungan yang erat dengan prefiks meN-. Prefiks meN- berfungsi membentuk kata kerja, sedangkan prefiks peN- berfungsi membentuk kata benda dari dasar yang mungkin sama dengan bentuk dasar kata berprefiks meN-. Dengan demikian, artinya pun memiliki ke­dekatan. Arti prefiks peN- dapat digolongkan sebagai berikut :

a)      Menyatakan orang yang biasa melakukan tindakan yang tersebut pada                bentuk dasar. Misalnya, pembaca, pengarang, pembela, pencu­kur.

b)      Menyatakan alat yang dipakai untuk melakukan tindakan yang ter­sebut pada bentuk dasar. Misalnya, pemotong, pemukul, penggaris, penjahit, pengangkut.

c)       Menyatakan memiliki sifat yang tersebut pada bentuk dasarnya. Mi­salnya, pemalas, penakut, pemalu, pemarah, periang.

d)      Menyatakan yang menyebabkan adanya sifat yang tersebut pada bentuk dasar. Misalnya, pengeras, penguat, pendingin, penghalus.

e)      Menyatakan memiliki sifat berlebihan yang tersebut pada bentuk dasar. Misalnya, pemalu, penakut, pengasih, pemurah, pemberani.

f)        Menyatakan yang biasa melakukan tindakan yang berhubungan de­ngan benda yang tersebut pada bentuk dasar. Makna tersebut ter­dapat pada kata-kata berafiks peN- yang bentuk dasarnya berupa kata benda. Misalnya, pelaut, penyair, penganggrek, pengusaha.

TUGAS MORFOLOGI

1. Jelaskan pengertian afiksasi !

2. Tuliskan jenis-jenis afiks !

3. Berikan 5 contoh kata yang terbentuk dari prefiks meN !

4. Buatlah kalimat dari contoh prefiks meN pada soal nomor 3 di atas !

5. jelaskan apa yang dimaksud dengan proses morfologis dan tuliskan proses

     tersebut !

 

Selamat Bekerja

 

By Hendrik Lalla, S.Pd
NIDN. 0931057502

Sutan Takdir Alisyahbana

Takdir Alisjahbana (STA), (lahir di Natal, Sumatera Utara, 11 Februari 1908 – wafat di Jakarta, 17 Juli 1994 pada umur 86 tahun), adalah sastrawan Indonesia. Menamatkan HKS di Bandung (1928), meraih Mr. dari Sekolah Tinggi di Jakarta (1942), dan menerima Dr. Honoris Causa dari UI (1979) dan Universiti Sains, Penang, Malaysia (1987).Diberi nama Takdir karena jari tangannya hanya ada 4.
Pernah menjadi redaktur Panji Pustaka dan Balai Pustaka (1930-1933), kemudian mendirikan dan memimpin majalah Pujangga Baru (1933-1942 dan 1948-1953), Pembina Bahasa Indonesia (1947-1952), dan Konfrontasi (1954-1962). Pernah menjadi guru HKS di Palembang (1928-1929), dosen Bahasa Indonesia, Sejarah, dan Kebudayaan di UI (1946-1948), guru besar Bahasa Indonesia, Filsafat Kesusastraan dan Kebudayaan di Universitas Nasional, Jakarta (1950-1958)
, guru besar Tata Bahasa Indonesia di Universitas Andalas, Padang (1956-1958), dan guru besar & Ketua Departemen Studi Melayu Universitas Malaya, Kuala Lumpur (1963-1968).
Sebagai anggota Partai Sosialis Indonesia, STA pernah menjadi anggota parlemen (1945-1949), anggota Komite Nasional Indonesia, dan anggota Konstituante (1950-1960). Selain itu, ia menjadi anggota Societe de linguitique de Paris (sejak 1951), anggota Commite of Directors of the International Federation of Philosophical Sociaties (1954-1959), anggota Board of Directors of the Study Mankind, AS (sejak 1968), anggota World Futures Studies Federation, Roma (sejak 1974), dan anggota kehormatan Koninklijk Institute voor Taal, Land en Volkenkunde, Belanda (sejak 1976). Dia juga pernah menjadi Rektor Universitas Nasional, Jakarta, Ketua Akademi Jakarta (1970-1994), dan pemimpin umum majalah Ilmu dan Budaya (1979-1994), dan Direktur Balai Seni Toyabungkah, Bali (-1994).

 

Masa Kecil

Ayah STA, Raden Alisyahbana Sutan Arbi, ialah seorang guru. Selain itu, dia juga menjalani pekerjaan sebagai penjahit, pengacara tradisional (pokrol bambu), dan ahli reparasi jam. Selain itu, dia juga dikenal sebagai pemain sepak bola yang handal. Kakek STA dikenal sebagai seseorang yang dianggap memiliki pengetahuan agama dan hukum yang luas, dan di atas makamnya tertumpuk buku-buku yang sering disaksikan terbuang begitu saja oleh STA ketika dia masih kecil. Kabarnya, ketika kecil STA bukan seorang kutu buku, dan lebih senang bermain-main di luar. Setelah lulus dari sekolah dasar pada waktu itu, STA pergi ke Bandung, dan seringkali menempuh perjalanan tujuh hari tujuh malam dari Jawa ke Sumatera setiap kali dia mendapat liburan. Pengalaman ini bisa terlihat dari cara dia menuliskan karakter Yusuf di dalam salah satu bukunya yang paling terkenal: Layar Terkembang.

Keterlibatan dengan Balai Pustaka

Setelah lulus dari Hogere Kweekschool di Bandung, STA melanjutkan ke Hoofdacte Cursus di Jakarta (Batavia), yang merupakan sumber kualifikasi tertinggi bagi guru di Hindia Belanda pada saat itu. Di Jakarta, STA melihat iklan lowongan pekerjaan untuk Balai Pustaka, yang merupakan biro penerbitan pemerintah administrasi Belanda. Dia diterima setelah melamar, dan di dalam biro itulah STA bertemu dengan banyak intelektual-intelektual Hindia Belanda pada saat itu, baik intelektual pribumi maupun yang berasal dari Belanda. Salah satunya ialah rekan intelektualnya yang terdekat, Armijn Pane.

 
Sutan Takdir Alisjahbana dan Perkembangan Bahasa Indonesia

Dalam kedudukannya sebagai penulis ahli dan kemudian ketua Komisi Bahasa selama pendudukan Jepang,Takdir melakukan modernisasi bahasa Indonesia sehingga dapat menjadi bahasa nasional yang menjadi pemersatu bangsa. Ia yang pertama kali menulis Tatabahasa Baru Bahasa Indonesia (1936) dipandang dari segi Indonesia, buku mana masih dipakai sampai sekarang,serta Kamus Istilah yang berisi istilah- istilah baru yang dibutuhkan oleh negara baru yang ingin mengejar modernisasi dalam berbagai bidang. Setalah Kantor Bahasa tutup pada akhir Perang Dunia kedua, ia tetap mempengaruhi perkembangan bahasa Indonesia melalui majalah Pembina Bahasa yang diterbitkan dan dipimpinnya. Sebelum kemerdekaan, Takdir adalah pencetus Kongres Bahasa Indonesia pertama di Solo. Pada tahun 1970 Takdir menjadi Ketua Gerakan Pembina Bahasa Indonesia dan inisiator Konferensi Pertama Bahasa- Bahasa Asia tentang “The Modernization of The Languages in Asia (29 September-1 Oktober 1967)
Karya-karyanya
• Tak Putus Dirundung Malang (novel, 1929)

• Dian Tak Kunjung Padam (novel, 1932)

• Tebaran Mega (kumpulan sajak, 1935)

• Tatabahasa Baru Bahasa Indonesia (1936)

• Layar Terkembang (novel, 1936)
• Anak Perawan di Sarang Penyamun (novel, 1940)
• Puisi Lama (bunga rampai, 1941)
• Puisi Baru (bunga rampai, 1946)
• Pelangi (bunga rampai, 1946)
• Pembimbing ke Filsafat (1946)
• Dari Perjuangan dan Pertumbuhan Bahasa Indonesia (1957)
• The Indonesian language and literature (1962)
• Revolusi Masyarakat dan Kebudayaan di Indonesia (1966)
• Kebangkitan Puisi Baru Indonesia (kumpulan esai, 1969)
• Grotta Azzura (novel tiga jilid, 1970 & 1971)
• Values as integrating vorces in personality, society and culture (1974)
• The failure of modern linguistics (1976)
• Perjuangan dan Tanggung Jawab dalam Kesusastraan (kumpulan esai, 1977)
• Dari Perjuangan dan Pertumbuhan Bahasa Indonesia dan Bahasa Malaysia sebagai Bahasa Modern (kumpulan esai, 1977)
• Perkembangan Sejarah Kebudayaan Indonesia Dilihat dari Segi Nilai-Nilai (1977)
• Lagu Pemacu Ombak (kumpulan sajak, 1978)
• Amir Hamzah Penyair Besar antara Dua Zaman dan Uraian Nyanyian Sunyi (1978)
• Kalah dan Menang (novel, 1978)
• Menuju Seni Lukis Lebih Berisi dan Bertanggung Jawab (1982)
• Kelakuan Manusia di Tengah-Tengah Alam Semesta (1982)
• Sociocultural creativity in the converging and restructuring process of the emerging world (1983)
• Kebangkitan: Suatu Drama Mitos tentang Bangkitnya Dunia Baru (drama bersajak, 1984)
• Perempuan di Persimpangan Zaman (kumpulan sajak, 1985)
• Seni dan Sastra di Tengah-Tengah Pergolakan Masyarakat dan Kebudayaan (1985)
• Sajak-Sajak dan Renungan (1987).
Buku yang dieditorinya: Kreativitas (kumpulan esai, 1984) dan Dasar-Dasar Kritis Semesta dan Tanggung Jawab Kita (kumpulan esai, 1984).
Terjemahannya: Nelayan di Laut Utara (karya Pierre Loti, 1944), Nikudan Korban Manusia (karya Tadayoshi Sakurai; terjemahan bersama Soebadio Sastrosatomo, 1944).
Buku mengenai STA: Muhammmad Fauzi, S. Takdir Alisjahbana & Perjuangan Kebudayaan Indonesia 1908-1994 (1999) dan S. Abdul Karim Mashad Sang Pujangga, 70 Tahun Polemik Kebudayaan, Menyongsong Satu Abad S. Takdir Alisjahbana (2006).
Penghargaan
• Tahun 1970 STA menerima Satyalencana Kebudayaan dari Pemerintah RI.
• STA adalah pelopor dan tokoh sastrawan “Pujangga Baru”.
Lain-lain
Sampai akhirnya hayatnya, ia belum mewujudkan cita-cita terbesarnya, menjadikan bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar kawasan di Asia Tenggara. Ia kecewa, bahasa Indonesia semakin surut perkembangannya. Padahal, bahasa itu pernah menggetarkan dunia linguistik saat dijadikan bahasa persatuan untuk penduduk di 13.000 pulau di Nusantara. Ia kecewa, bangsa Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, sebagian Filipina, dan Indonesia yang menjadi penutur bahasa melayu gagal mengantarkan bahasa itu kembali menjadi bahasa pengantara kawasan.

AMIR HAMZAH

 

Tokoh Indonesia 28/02/2009: Amir Hamzah lahir sebagai seorang manusia penyair pada 28 Februari 1911 di Tanjung Pura, Langkat, Sumatera Utara. Ia seorang sastrawan Pujangga Baru. Pemerintah menganugerahinya Pahlawan Nasional. Anggota keluarga kesultanan Langkat bernama lengkap Tengku Amir Hamzah Indera Putera, ini wafat di Kuala Begumit, 20 Maret 1946 akibat revolusi sosial di Sumatera Timur.

Sebagai seorang keluarga istana (bangsawan), ia memiliki tradisi sastra yang kuat. Menitis dari ayahnya, Tengku Muhammad Adil, seorang pangeran di Langkat, yang sangat mencintai sejarah dan sastra Melayu. Sang Ayah (saudara Sultan Machmud), yang menjadi wakil sultan untuk Luhak Langkat Bengkulu dan berkedudukan di Binjai, Sumatra Timur, memberi namanya Amir Hamzah adalah karena sangat mengagumi Hikayat Amir Hamzah.

Sejak masa kecil, Amir Hamzah sudah hidup dalam suasana lingkungan yang menggemari sastra dan sejarah. Ia bersekolah di Langkatsche School (HIS), sekolah dengan tenaga pengajar orang-orang Belanda. Lalu sore hari, ia belajar mengaji di Maktab Putih di sebuah rumah besar bekas istana Sultan Musa, di belakang Masjid Azizi Langkat.

Setamat HIS, Amir melanjutkan studi ke MULO di Medan, tapi tidak sampai selesai. Ia pindah ke MULO di Jakarta. Di Jawa perkembangan kepenyairannya makin terbentuk. Apalagi sejak  sekolah di Aglemeene Middelbare School (AMS) jurusan Sastra Timur di Solo, Amir menulis sebagian besar sajak-sajak pertamanya. Di sini ia memperkaya diri dengan kebudayaan modern, kebudayaan Jawa, dan kebudayaan Asia lainnya.

Kegemaran dan kepiawian menulis saja itu berlanjut hingga saat ia melanjutkan studi di Sekolah Tinggi Hukum di Jakarta. Dalam kumpulan sajak Buah Rindu yang ditulis antara tahun 1928 dan t1935, tapak perubahan lirik pantun dan syair Melayunya menjadi sajak yang lebih modern.

Tahun 1931, ia telah memimpin Kongres Indonesia Muda di Solo. Pergaulannya dengan para tokoh pergerakan nasional itu telah mewarnai dunia kesusasteraannya. Sebagai sastrawan dan melalui karya-karyanya yang ditulis dalam bahasa Indonesia, Amir telah memberikan sumbangan besar dalam proses perkembangan dan pematangan bahasa Melayu menjadi bahasa nasional Indonesia. Dalam suratnya kepada Armijn Pane pada bulan November 1932, ia menyebut bahasa Melayu adalah bahasa yang molek.

Bagi Amir, Bahasa Indonesia adalah simbol dari kemelayuan, kepahlawanan dan keislaman. Hal ini tercermin dari syair-syair Amir yang merupakan refleksi dari relijiusitas, dan kecintaannya pada ibu pertiwi serta kegelisahan sebagai seorang pemuda Melayu.

Secara keseluruhan ada sekitar 160 karya Amir yang berhasil dicatat. Di antaranya 50 sajak asli, 77 sajak terjemahan, 18 prosa liris asli, 1 prosa liris terjemahan, 13 prosa asli dan 1 prosa terjemahan. Karya-karyanya tercatat dalam kumpulan sajak Buah Rindu, Nyanyi Sunyi, Setanggi Timur dan terjemah Baghawat Gita.

Ia memang seorang penyair hebat. Perintis kepercayaan diri para penyair nasional untuk menulis karya sastra dalam bahasa Indonesia, sehingga semakin meneguhkan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Amir seorang enyair besar Pujangga Baru, yang kepenyairannya membuat Bahasa Melayu-Indonesia mendapat suara dan lagu yang unik yang terus dihargai hingga saat ini. Ia penyair yang tersempurna dalam bahasa Melayu-Indonesia hingga sekarang.

Amir adalah tiga sejoli bersama Armijn Pane dan SutanTakdir Alisyahbana, yang memimpin Pujangga Baru. Mereka mengelola majalah yang menguasai kehidupan sastera dan kebudayaan Indonesia dari tahun 1933 hingga pecah perang dunia kedua.

Pemerintah RI kemudian mengapresiasi jasa dan sumbangsih Amir Hamzah ini dengan menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 1975.

Selain itu, penghargaan atas jasa Amir Hamzah terlihat dari penggunaan namanya sebagai nama gedung pusat kebudayaan Indonesia di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Kuala Lumpur, dan nama masjid di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Namun akhir hidup penyair yang juga pengikut tarekat Naqsabandiyah ini ternyata berakhir tragis. Setelah pada 29 Oktober 1945, Amir diangkat menjadi Wakil Pemerintah Republik Indonesia untuk Langkat yang berkedudukan di Binjai (saat itu Amir adalah juga Pangeran Langkat Hulu di Binjai), kemudian terjadi revolusi sosial pada Maret 2006. Sasarannya adalah keluarga bangsawan yang dianggap feodal dan kurang memihak kepda rakyat, termasuk Amir Hamzah.

Amir Hamzah meninggal akibat revolusi sosial di Sumatera Timur itu, justru pada awal kemerdekaan Indonesia. Kala itu, ia hilang tak tentu rimbanya. Mayatnya ditemukan di sebuah pemakaman massal yang dangkal di Kuala Begumit. Konon, ia tewas dipancung hingga tewas tanpa proses peradilan pada dinihari, 20 Maret 1946, dalam usia yang relaif mati muda, 35 tahun. Ia dimakamkan di pemakaman mesjid Azizi, Tanjung Pura, Langkat. Di makamnya terukir dua buah syairnya.

Pada sisi kanan batu nisan, terpahat bait sajak;

Bunda, waktu tuan melahirkan beta
Pada subuh embang cempaka
Adalah ibu menaruh sangka
Bahwa begini peminta anakda

Tuan aduhai mega berarak
Yang meliputi dewangga raya
Berhentilah tuan di atas teratak
Anak Langkat musafir lata

Pada sisi kiri batu nisannya, terpahat ukiran bait sajak:

Datanglah engkau wahai maut
Lepaskan aku dari nestapa
Engkau lagi tempatku berpaut
Di waktu ini gelap gulita

Sampaikan rinduku pada adinda
Bisikkan rayuanku pada juita
Liputi lututnya muda kencana
Serupa beta memeluk dia

Apa kesalahannya sehingga ia diperlakukan seperti itu? ‘Kesalahannya’ hanya karena ia lahir dari keluarga istana. Pada saat itu sedang terjadi revolusi sosial yang bertujuan untuk memberantas segala hal yang berbau feodal dan feodalisme. Banyak para tengku dan bangsawan istana yang dibunuh saat itu, termasuk Amir Hamzah.

 

 

 
Pendidikan:
– Sekolah Menengah Langkatsche School (HIS)
– MULO di Medan dandi Jakarta,
– Aglemeene Middelbare School (AMS) jurusan Sastra Timur di Solo,
– Sekolah Tinggi Hukum di Jakarta
Karir:
Sasatrawan, Penyair
– Wakil Pemerintah Republik Indonesia untuk Langkat yang berkedudukan di Binjai, 29 Oktober 1945-20 Maret 1946

Karya:
kumpulan sajak Buah Rindu, Nyanyi Sunyi, Setanggi Timur, Terjemah Baghawat Gita

Penghargaan:
Diangkat sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 1975

Legenda Putri Tujuh

 

Dahulu kala, di daerah Dumai berdiri sebuah kerajaan bernama Seri Bunga Tanjung. Kerajaan ini diperintah oleh seorang Ratu yang bernama Cik Sima. Ratu ini memiliki tujuh orang putri yang elok nan rupawan, yang dikenal dengan Putri Tujuh. Dari ketujuh putri tersebut, putri bungsulah yang paling cantik, namanya Mayang Sari. Putri Mayang Sari memiliki keindahan tubuh yang sangat mempesona, kulitnya lembut bagai sutra, wajahnya elok berseri bagaikan bulan purnama, bibirnya merah bagai delima, alisnya bagai semut beriring, rambutnya yang panjang dan ikal terurai bagai mayang. Karena itu, sang Putri juga dikenal dengan sebutan Mayang Mengurai.

Pada suatu hari, ketujuh putri itu sedang mandi di lubuk Sarang Umai. Karena asyik berendam dan bersendau gurau, ketujuh putri itu tidak menyadari ada beberapa pasang mata yang sedang mengamati mereka, yang ternyata adalah Pangeran Empang Kuala dan para pengawalnya yang kebetulan lewat di daerah itu. Mereka mengamati ketujuh putri tersebut dari balik semak-semak. Secara diam-diam, sang Pangeran terpesona melihat kecantikan salah satu putri yang tak lain adalah Putri Mayang Sari. Tanpa disadari, Pangeran Empang Kuala bergumam lirih, “Gadis cantik di lubuk Umai….cantik di Umai. Ya, ya…..d‘umai…d‘umai….” Kata-kata itu terus terucap dalam hati Pangeran Empang Kuala. Rupanya, sang Pangeran jatuh cinta kepada sang Putri. Karena itu, sang Pangeran berniat untuk meminangnya.

Beberapa hari kemudian, sang Pangeran mengirim utusan untuk meminang putri itu yang diketahuinya bernama Mayang Mengurai. Utusan tersebut mengantarkan tepak sirih sebagai pinangan adat kebesaran raja kepada Keluarga Kerajaan Seri Bunga Tanjung. Pinangan itu pun disambut oleh Ratu Cik Sima dengan kemuliaan adat yang berlaku di Kerajaan Seri Bunga Tanjung. Sebagai balasan pinangan Pangeran Empang Kuala, Ratu Cik Sima pun menjunjung tinggi adat kerajaan yaitu mengisi pinang dan gambir pada combol paling besar di antara tujuh buah combol yang ada di dalam tepak itu. Enam buah combol lainnya sengaja tak diisinya, sehingga tetap kosong. Adat ini melambangkan bahwa putri tertualah yang berhak menerima pinangan terlebih dahulu.

Mengetahui pinangan Pangerannya ditolak, utusan tersebut kembali menghadap kepada sang Pangeran. “Ampun Baginda Raja! Hamba tak ada maksud mengecewakan Tuan. Keluarga Kerajaan Seri Bunga Tanjung belum bersedia menerima pinangan Tuan untuk memperistrikan Putri Mayang Mengurai.” Mendengar laporan itu, sang Raja pun naik pitam karena rasa malu yang amat sangat. Sang Pangeran tak lagi peduli dengan adat yang berlaku di negeri Seri Bunga Tanjung. Amarah yang menguasai hatinya tak bisa dikendalikan lagi. Sang Pangeran pun segera memerintahkan para panglima dan prajuritnya untuk menyerang Kerajaan Seri Bunga Tanjung. Maka, pertempuran antara kedua kerajaan di pinggiran Selat Malaka itu tak dapat dielakkan lagi.

Di tengah berkecamuknya perang tersebut, Ratu Cik Sima segera melarikan ketujuh putrinya ke dalam hutan dan menyembunyikan mereka di dalam sebuah lubang yang beratapkan tanah dan terlindung oleh pepohonan. Tak lupa pula sang Ratu membekali ketujuh putrinya makanan yang cukup untuk tiga bulan. Setelah itu, sang Ratu kembali ke kerajaan untuk mengadakan perlawanan terhadap pasukan Pangeran Empang Kuala. Sudah 3 bulan berlalu, namun pertempuran antara kedua kerajaan itu tak kunjung usai. Setelah memasuki bulan keempat, pasukan Ratu Cik Sima semakin terdesak dan tak berdaya. Akhirnya, Negeri Seri Bunga Tanjung dihancurkan, rakyatnya banyak yang tewas. Melihat negerinya hancur dan tak berdaya, Ratu Cik Sima segera meminta bantuan jin yang sedang bertapa di bukit Hulu Sungai Umai.

Pada suatu senja, pasukan Pangeran Empang Kuala sedang beristirahat di hilir Umai. Mereka berlindung di bawah pohon-pohon bakau. Namun, menjelang malam terjadi peristiwa yang sangat mengerikan. Secara tiba-tiba mereka tertimpa beribu-ribu buah bakau yang jatuh dan menusuk ke badan para pasukan Pangeran Empang Kuala. Tak sampai separuh malam, pasukan Pangeran Empang Kaula dapat dilumpuhkan. Pada saat pasukan Kerajaan Empang Kuala tak berdaya, datanglah utusan Ratu Cik Sima menghadap Pangeran Empang Kuala.

Melihat kedatangan utusan tersebut, sang Pangeran yang masih terduduk lemas menahan sakit langsung bertanya, “Hai orang Seri Bunga Tanjung, apa maksud kedatanganmu ini?”. Sang Utusan menjawab, “Hamba datang untuk menyampaikan pesan Ratu Cik Sima agar Pangeran berkenan menghentikan peperangan ini. Perbuatan kita ini telah merusakkan bumi sakti rantau bertuah dan menodai pesisir Seri Bunga Tanjung. Siapa yang datang dengan niat buruk, malapetaka akan menimpa, sebaliknya siapa yang datang dengan niat baik ke negeri Seri Bunga Tanjung, akan sejahteralah hidupnya,” kata utusan Ratu Cik Sima menjelaskan. Mendengar penjelasan utusan Ratu Cik Sima, sadarlah Pangeran Empang Kuala, bahwa dirinyalah yang memulai peperangan tersebut. Pangeran langsung memerintahkan pasukannya agar segera pulang ke Negeri Empang Kuala.

Keesokan harinya, Ratu Cik Sima bergegas mendatangi tempat persembunyian ketujuh putrinya di dalam hutan. Alangkah terkejutnya Ratu Cik Sima, karena ketujuh putrinya sudah dalam keadaan tak bernyawa. Mereka mati karena haus dan lapar. Ternyata Ratu Cik Sima lupa, kalau bekal yang disediakan hanya cukup untuk tiga bulan. Sedangkan perang antara Ratu Cik Sima dengan Pangeran Empang Kuala berlangsung sampai empat bulan. Akhirnya, karena tak kuat menahan kesedihan atas kematian ketujuh putrinya, maka Ratu Cik Sima pun jatuh sakit dan tak lama kemudian meninggal dunia. Sampai kini, pengorbanan Putri Tujuh itu tetap dikenang dalam sebuah lirik:

Umbut mari mayang diumbut
Mari diumbut di rumpun buluh
Jemput mari dayang dijemput
Mari dijemput turun bertujuh
Ketujuhnya berkain serong
Ketujuhnya bersubang gading
Ketujuhnya bersanggul sendeng
Ketujuhnya memakai pending

Sejak peristiwa itu, masyarakat Dumai meyakini bahwa nama kota Dumai diambil dari kata “d‘umai” yang selalu diucapkan Pangeran Empang Kuala ketika melihat kecantikan Putri Mayang Sari atau Mayang Mengurai